• Imi Surapranata

Wisata alam : Jembatan gantung Situgunung dan Curug Sawer

Sejak Covid pertama kali masuk ke Indonesia awal Maret tahun lalu, hampir seluruh aktivitas dan kegiatan seakan-akan stuck di tempat. Jumlah kerjaan bertambah, tapi semuanya di kerjakan di dalam rumah. Membosankan memang. Era pre-covid saya dan keluarga biasanya selalu menyempatkan diri untuk liburan di sela-sela kesibukan, pilihan kami biasanya memang luar negri. Alasannya sederhana sebenarnya, karena saya ingin menikmati live as local in comfortable way. Tinggal di pedesaan, kemana-mana naik kendaraan umum, mendatangi tempat wisata yang tidak ramai, udara bersih, lingkungan bersih, sambil sekali-kali jalan ke kota.


Sayangnya a little “lux” seperti itu belum bisa saya dapatkan di Indonesia. Pembangunan Indonesia belum merata sampai ke pedesaan. Kalau saya ingin menikmati hidup pedesaan di Indonesia saya harus membawa kendaraan sendiri. Kendaraan umum yang tersedia seperti angkot waktu kedatangannya tidak bisa di perkirakan dan sering berhenti lama untuk ngetem. Belum di tambah sampah yang berserakan, aksi vandalism dimana-mana, dan asap rokok di setiap sudut jalan, waduh yang ada saya bad mood duluan saat liburan.


Namun sejak COVID datang ke Indonesia dan penerbangan luar negri banyak di tutup, kami akhirnya mulai melirik tempat-tempat wisata di sekitar Indonesia yang nyaman dan tidak ramai. Terakhir liburan kami mengunjungi glamping untuk merasakan suasana camping mewah dengan pemandangan alam yang asri. Kali ini kami mencoba mencari tempat wisata lain yang lebih ramah di kantong dan menawarkan pemandangan alam.


Pilihan kami jatuh pada wisata alam Jembatan gantung Situgunung di Sukabumi. Dari Jakarta kami membutuhkan waktu sekitar 3 jam menuju Kawasan Jembatan gantung.


Tiket masuk reguler, sudah termasuk snack ringan

Harga tiket masuk yang ditawarkan terdiri dari kelas regular dan VIP. Untuk kelas regular cukup membayar Rp. 50.000,00 sementara kelas VIP dijual Rp.100.000,00. Bedanya hanya dari ketersediaan odong-odong dari pintu masuk menuju jembatan gantung dan di sediakannya makan siang untuk kelas VIP. Tapi karena tujuan kami adalah menikmati alam, kami memilih untuk mengambil jalur regular.




Jalanannya memang sedikit mendaki jika mengambil jalur regular, tapi saya kagum karena bersih dan tertata rapih. Saya malah merasakan suasana seperti ketika saya mendaki gunung di luar negri. Yang saya kagumi karena tidak adanya sampah berserakan di sepanjang jalan yang (sayangnya) seperti ciri khas tempat wisata di Indonesia yang di kelola oleh pemerintah.



Sepanjang jalan di Situgunung, tertata rapih dan bersih

Setelah berjalan sebentar, kita akan di berikan snack ringan yang sudah masuk ke dalam harga tiket masuk. Snack yang diberikan pun sangat tradisional, singkong dan pisang rebus serta teh manis panas. Sambil menikmati alunan gamelan musik sunda dan pertunjukan tradisional, kita bisa menikmati kudapan ringan dengan santai sebelum mulai mendaki gunung. Bahkan kita juga bisa ikut bermain dengan para pemain gamelan dan merasakan sensasi memberikan pertunjukan tradisional.


Ikut bermain di pertunjukan gamelan


Jembatan gantung situgunung sendiri ada dua, ada yang baru dibangun dan ada yang sudah lama. Harganya berbeda ketika membeli di pintu masuk. Kami membeli tiket untuk menaiki jembatan yang lama. Di jembatan gantung ini mungkin memang sedikit ramai pengunjung, tapi masih menjaga jarak satu sama lain. Semua pengunjung pun cukup patuh untuk menggunakan masker.

Jembatan Situgunung

Hal ini dikarenakan hanya 90 orang yang di perbolehkan untuk menaiki jembatan. Jadi kalau di atas jembatan sudah ada 90 orang, kita harus menunggu terlebih dahulu. Sebelum naik, petugas akan memberikan sabuk pengaman untuk kita gunakan. Sabuk ini di perlukan Ketika ada kondisi darurat seperti angin kencang atau kondisi extrim lain yang tidak kita duga akan terjadi.


Panjang jembatan sekitar 300 meter, dan disekelilingnya adalah pemandangan hutan asri yang menawan. Mungkin akan sedikit terasa mual pada kedua ujung jembatan karena terasa sekali guncangannya. Namun di tengah jembatan goyangannya tidak begitu terasa.


Setelah selesai melewati jembatan kita akan sampai di kantin yang menjual berbagai macam makanan berat. Untuk yang membeli kelas VIP, akan di sediakan makan siang yang sudah termasuk dalam harga tiket. Dari seberang jembatan ini juga di bolehkan untuk langsung pulang atau menuju ke curug Sawer. Kami memutuskan berjalan lagi menuju curug Sawer.

Jalan menuju curug Sawer

Jalanannya memang tidak mudah, namun sudah di berikan batu dan pembatas yang rapih sehingga mempermudah untuk di lewati oleh anak-anak. Ada beberapa titik mata air jernih yang bisa kami temukan sepanjang jalan menuju curug, udaranya segar, lingkungannya asri, tidak ramai orang, dan suara gemericik air pun samar-samar terdengar sepanjang jalan.




Sekita 2-3 KM dari tempat keluar jembatan gantung, kami akhirnya sampai di curug Sawer. Air terjunnya memang tidak terlalu besar tapi tinggi. Ini adalah air terjun pertama yang pernah Rana datangi.



Curug Sawer



Ada bapak-bapak yang menyanyikan lagu khas sunda dengan alat musik tradisional di dekat air terjun. Suaranya melantun merdu dengan background air terjun yang deras.


Bapak pemain gamelan di samping curug

Sungai yang jernih, bersih, sejuk dan sepi

Tidak berapa jauh dari air terjun, ada sungai jernih yang cukup dangkal. Sungainya pun memiliki batu-batu yang besar yang bisa kami duduki. Karena tidak ramai kami seperti berada di sungai pribadi milik kami sendiri. Airnya jernih dan sangat dingin.





Perjalanan ke SItugunung ini sangat memuaskan bagi kami. Harga tiket masuk yang murah, suasananya yang alami, tidak banyak orang dan lingkungannya yang bersih. Sayangnya memang tidak sedikit saya jumpai orang-orang yang merokok. Baik pegawai maupun pengunjung. Asap rokoknya tentu saja merusak udara bersih yang sudah disediakan oleh alam.


Tapi bagaimanapun, liburan alam kali ini mampu me-refresh Kembali otak dan pikiran kami yang mulai jenuh. Jangan lupa Covid-19 belum hilang dari Indonesia, selalu patuhi protokol Kesehatan dengan mencuci tangan dengan sabun, selalu gunakan masker dan menjaga jarak dengan orang lain.



0 komentar