• Imi Surapranata

Rumah subsidi vs non-subsidi untuk milenial

Melanjutkan tulisan saya kemarin tentang rumah, saya sempat menyinggung Ketika saya membandingkan dua buah rumah mungil yang saya dan suami kunjungi pada liburan akhir tahun kemarin. Kedua rumah dibangun di atas tanah 60m2, sangat mungil memang, namun sesuai untuk keluarga kecil dengan kantong pas-pasan.


Beberapa syarat untuk bisa membeli rumah non-subsidi adalah memiliki penghasilan kurang dari 8juta rupiah sebulan, belum pernah memiliki rumah, dan tidak pernah mengambil KPR. Syarat itu bisa di ambil oleh suami saya, karena penghasilan suami sy dari kantornya memang tidak sampai 8juta rupiah. Sisanya beliau peroleh melalui usaha sampingan.


Setelah membandingkan beberapa hal antara rumah subsidi dan non-subsidi, pada akhirnya memang kami memutuskan untuk membeli rumah non-subsidi. Salah satu hal yang membuat kami untuk mengambil rumah non-subsidi karena niat awal kami yang sudah salah. Namanya rumah subsidi memang di peruntukkan untuk masyarakat dengan penghasilan yang tidak cukup untuk membeli rumah komersil pada umumnya yang belum memiliki rumah. Sementara suami saya masih memiliki penghasilan tambahan dari luar kantornya, dan kami sebenarnya sudah memiliki rumah walaupun pemberian orang tua.


Sebelum memutuskan untuk membeli rumah, suami dan saya awalnya memang bertekad untuk membeli rumah subsidi yang lebih masuk di akal untuk cicilan jangka panjang. Namun ternyata ada persyaratan lain di rumah subsidi yang tidak dijelaskan oleh agennya. Hal yang menjadi keputusan bulat kami untuk membeli rumah non-subsidi adalah karena rumah subsidi tidak boleh kosong (harus di tempati) dan tidak boleh disewakan dalam satu tahun pertama sejak kepemilikan. Jika dalam satu tahun rumah kosong atau ketahuan di sewakan, subsidi akan di cabut. Akibatnya, harga rumah yang dibebankan akan menjadi lebih mahal dibandingkan rumah non-subsidi. Karena memang niat kami adalah bukan untuk menempatinya tapi untuk disewakan kembali, tentu saja kami lebih memilih untuk membeli rumah non-subsidi yang lebih safe.


Kalau ada yang ingin tahu perbandingan kedua rumah (subsidi dan non-subsidi), saya akan sedikit mencoba membandingkan antara keduanya.


1. Harga

Rumah subsidi di tawarkan sebesar 168 juta rupiah untuk cicilan minimal 10 tahun, tidak boleh dibeli secara cash. Sementara rumah non-subsidi di tawarkan sebesar 180 juta rupiah jika di beli dengan cash keras, tentu saja harga akan mejadi lebih mahal jika mengambil cicilan.


2. Lokasi

Lokasi keduanya berdekatan, pada kasus rumah yang saya lihat ( di daerah Tenjo), rumah subsidi justru terletak lebih dekat ke stasiun KA Tigaraksa yang bahkan bisa di tempuh dengan berjalan kaki (<1km). Untuk rumah non-subsidi Podomoro Tenjo, letaknya sekitar 3-5 km dari stasiun KA tigaraksa. Namun grup podomoro nantinya berencana akan membangun shettle bus di tiap perumahan dari dan ke stasiun Tenjo dan Tigaraksa (serta stasiun LRT lain yang rencananya akan dibangun).


3. Bentuk fasad bangunan

Secara arsitektur, tampak depan rumah subsidi terlihat biasa dan sederhana. Secara sekilas proses pengerjaannya juga tidak berbeda jauh dengan rumah pada umumnya, namun jika di lihat lebih baik dan detail memang sedikit terlihat pembangunan yang tidak rata, kasar dan kurang rapih. Namun saya pikir itu tidak menjadi masalah besar jika di bandingkan dengan harga yang sangat murah


Tampak depan rumah subsidi

Untuk rumah non-subsidi tampak depan memang terlihat sedikit berbeda dengan atap yang datar. Proses pengerjaannya kalau di lihat secara detail pun lebih rapih dan lebih profesional.


Tampak depan rumah non-subsidi

Untuk tampak dalam rumah subsidi pun terlihat lebih kasar dalam hal pengerjaan. Namun sekali lagi, bagi saya tidak menjadi masalah besar karena harga rumah dan tanah sangat murah dan masuk akal.


Tampak dalam rumah subsidi

Berbeda halnya, rumah non-subsidi dalam pengerjaan terlihat lebih rapih.


Tampak dalam rumah non-subsidi

Dari segi bangunan, rumah non-subsidi memang terlihat lebih kokoh dan kuat. Rumah non-subsidi dibangun dua tembok dengan tetangga, hanya saja untuk dinding belakang tidak dibangun sehingga tetap harus kita bangun terlebih dahulu untuk membatasi dengan rumah tetangga belakang.


Untuk rumah subsidi memang sayangnya dinding dan material bangunan yang di gunakan terlihat tidak kokoh dan sedikit kurang rapih, namun dinding pembatas dengan rumah belakang sudah terpasang. Sayangnya kalau saya lihat di rumah yang sudah jadi, walaupun di denah sama-sama berukuran 27/60, rumah subsidi terasa lebih sempit dibanding rumah non-subsidi. Padahal untuk tampak belakang bagian dapur (saya lupa memfotonya), rumah non-subsidi lebih lebar karena area belakang tidak banyak di gunakan. Entah mungkin karena penataan bangunannya yang kurang atau penataannya interiornya yang terasa lebih sempit


Overall, keduanya bagus dan masih ramah di kantong milenial dengan gaji pas-pasan.

0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua