• Imi Surapranata

Pendidikan vs Pengajaran secara online

Diperbarui: Agt 21



Selama ini, saya merasa diri saya adalah orang yang cenderung pasif. Saya termasuk orang yang legowo dan jarang mengeluarkan pendapat. Makan di restoran tidak sesuai dengan ekpektasi, ya sudah cukup tau aja besok-besok tidak akan kemari lagi. Punya teman yang menyebalkan dan tidak satu misi sama saya, yasudah cukup tau aja tidak usah terlalu dekat sama dia.


Sederhananya, saya malas berdebat.


Selama tidak merugikan dan tidak merepotkan saya, yasudah.


Tapi akhir-akhir ini saya menemukan sisi lain dari diri saya, ternyata saya orangnya tidak se-legowo yang saya kira. Terkait dengan sistem pendidikan online yang berlaku saat pandemik di sekolah anak saya (anak saya masih kelas 1 SD), saya termasuk orang yang paling vokal menyuarakan pendapat dan keberatan.


Saya menyuarakannya pertama kali di grup terkait beberapa metode yang cukup menyulitkan buat ibu bekerja. Seperti grup whatsapp di kelas yang penuh celotehan dan curhatan sehingga meniban informasi-informasi penting, atau ketidakpahaman sang guru terkait penggunaan zoom.


Kemudian saya mengajukan keberatan secara pribadi kepada ibu guru perihal metode pengajaran, yang ketika kurang mendapat tanggapan, saya protes langsung ke teman saya yang kebetulan bekerja di yayasan.


Sebagai orang yang bekerja dalam dunia pendidikan, saya termasuk yang tidak setuju terkait rencana menteri pendidikan untuk melanjutkan pendidikan secara online bahkan setelah wabah ini berakhir. Mungkin bapak menteri punya pertimbangan lain yang belum saya ketahui, wallahualam. Namun bagi saya, pendidikan itu berbeda dengan pengajaran. Pendidikan itu adalah sistem yang menyeluruh, kita menyampaikan teori pengetahuan dan aplikasinya dalam dunia nyata. Sementara dalam pengajaran, kita cukup menyampaikan teori.




Dalam pengajaran kita hanya perlu untuk mentransfer pengetahuan, memberi tahu kalau hitam itu hitam, putih itu putih. Namun dalam pendidikan, kita bukan hanya memberi tahu hitam itu hitam, atau putih itu putih. Kita juga harus memberitahu bagaimana menjadi manusia yang putih, dan menghindari menjadi manusia yang hitam.


Setiap orang bisa mengajar, namun tidak semua orang bisa mendidik.


Balik ke bahasan protes berkesinambungan saya selama dua minggu Rana memulai sekolah. Bagi saya, anak kelas 1 SD itu tidak perlu dibekali dengan tugas-tugas sekolah yang banyak. Cukup menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman, aman dan menyenangkan agar menumbuhkan semangat belajarnya.


Saya menyekolahkan Rana di sebuah sekolah swasta, yang juga mantan SD saya dahulu. Secara offline, sekolah ini luar biasa, fasilitas lengkap, guru kompeten, pengajaran tidak terlalu berat dengan tetap menitikberatkan pada agama, terlebih lokasinya yang hanya berjalan kaki dari rumah saya. SPPnya tidak murah, hampir menyamai gaji pokok saya sebagai PNS golongan III/c. Bagi saya, bayar mahal untuk pendidikan anak itu tidak masalah, toh banyak point2 plus yang saya temukan di sekolah ini yang tidak ada di sekolah dengan bayaran lebih murah. Pendidikan karakter.


Namun sayangnya, sejak wabah COVID-19 ini menyerang, saya sedikit kecewa dengan sekolah ini. Karena mereka tidak bisa menyesuaikan dengan keadaan saat ini, gurunya seakan tidak siap dengan perubahan yang mengharuskan pendidikan secara online.


Bulan terakhir Rana di TK, saya masih memaklumi, mereka masih beradaptasi. Saya mengikhlaskan setiap rupiah yang tetap harus saya bayar ke sekolah tapi tidak ada imbal baliknya. Karena pada akhirnya semua pendidikan di serahkan kepada saya, tidak ada peran guru sama sekali.


Tapi begitu masuk SD, 4 bulan sejak pandemik, saya tercengang. pertemuan kelas hanya 20 menit lewat zoom di pagi hari, dilanjutkan dengan tugas yang menumpuk. Dengan alasan sulit menjaga konsentrasi anak jika terus-terusan lewat zoom.


Lalu apa memberikan tugas menumpuk akan mudah menjaga konsentrasi anak ibu guru yang baik? bukankah itu hanya melimpahkan 'kesulitan' itu menjadi tanggung jawa orang tua?. Lalu apa gunanya saya membayar SPP yang mencekik itu jika pada akhirnya, semuanya saya yang lakukan? Apa bedanya dengan homeschooling selain saya masih harus tetap membayar SPP?


Saya sendiri adalah dosen di fakultas kedokteran sebuah universitas negeri, bulan-bulan pertama sejak pandemik tentu saja kami kewalahan dengan sistem pembelajaran yang jadi carut marut. Mendidik calon dokter itu bukan pekerjaan mudah, dan tidak akan cukup hanya dengan memutar video, katakanlah video menjahit luka, meminta mahasiswa menonton kemudian mahasiswa dinyatakan lulus. kalau hanya begitu semua orang juga bisa aja jadi dokter hanya dengan menonton video-video yang banyak tersebar di youtube bukan? Tidak perlu susah payah belajar supaya lulus ujian masuk universitas, tidak usah bayar SPP yang mahal, tidak usah membeli buku-buku tebal yang harganya selangit


Tim dosen di universitas kami bekerja mati-matian mencari metode yang pas, rapat terus-terusan, trial and error, sampai akhirnya pada kondisi sekarang, tidak ideal, but better than nothing. Karena pada dasarnya, siapa sih yang mau pandemik ini berlangsung terus-terusan kan?. Beberapa teman saya di universitas lain banyak yang akhirnya menanyakan metode yang digunakan di sini karena mereka sendiri masih kewalahan menghadapi metode pembelajaran online ini.


Lantas bukankah seharusnya trial and error itu juga terus dilakukan di jenjang pendidikan dasar? Agar pendidikan (bukan hanya pengajaran) bisa tersampaikan walaupun lewat online?. Syukurnya teman saya itu orang psikologi, dan beliau paham betul kalau interaksi itu yang sangat dibutuhkan anak kelas 1 SD.


Masukan saya yang ditolak bu guru langsung di sampaikan ke bidang pendidikannya. Alhamdulillah mulai minggu ini pembelajaran zoom rana di tambah dari 20 menit menjadi satu jam


Saat seperti ini saya jadi sering bertanya sama suami, bagaimana ya kabar orang-orang yang sekoalh dengan SPP yang tidak seberapa? Apa bisa protes kalau pengajarannya tidak seperti yang di harapkan? atau yang di rumahnya tidak punya gadget dan peralatan yang mendukung? atau yang bahkan sekolahnya tidak memberikan fasilitas ke guru untuk pendidikan secara online ini? Apakah kedepannya kementrian pendidikan akan berubah nama menjadi kementrian pengajaran? karena esensi pendidikannya ini akan hilang secara perlahan?



Semoga tidak


Semoga wabah ini cepat berakhir dan Anak-anak Indonesia bisa merasakan kembali pendidikan yang sesungguhnya