• Imi Surapranata

Nyaman liburan membawa anak

Salah satu cita-cita saya saat muda adalah bisa mengelilingi dunia dan melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang mata. Bepergian dan melihat hal baru tentu saja sangat menyenangkan dan merupakan tantangan tersendiri yang menarik. Sewaktu saya masih lajang, saya suka travelling dengan kawan atau orang tua. Ketika menikah pun saya berhasil memaksa suami saya untuk melihat dunia dari kacamata lain. Tapi hal itu tentu tidak mudah ketika saya sudah memiliki anak.


Saya dan Rana saat mengarungi sungai di Belanda


Dulu sebelum Rana lahir, saya dan suami suka sekali berpetualang dengan dana yang sangat terbatas, maklum mahasiswa yang hanya mengandalkan uang beasiswa. Kami selalu mencari pesawat, kereta dan penginapan paling murah. Semua jenis pengeluaran harus kami catat sebaik mungkin, biarpun hanya untuk membeli aqua di pinggir jalan.


Begitu Rana lahir saya di hadapkan pada dua pilihan, menahan keinginan untuk jalan-jalan sampai Rana cukup dewasa, atau tetap jalan-jalan namun menaikkan standar biaya kami. Karena tidak bisa di pungkiri ketika kita bepergian dengan menekan dana serendah mungkin, kenyamanan pun harus dikorbankan. Bukan hal mudah tentunya membawa anak dalam perjalanan dua kali transit atau menginap di hotel yang pemanasnya tidak menyala saat musim dingin.


Rana pertama kali saya bawa naik pesawat ketika usianya 1 bulan 28 hari, saat itu saya terpaksa harus terbang kembali ke Indonesia. Delapan jam perjalanan dengan infant tentu bukan hal yang mudah. Karena saat itu adalah pertama kalinya saya terbang membawa bayi, saya banyak sekali membaca tips-tips perjalanan dengan bayi di internet. Hasilnya tentu saja banyak sekali bawang bawaan yang akhirnya saya bawa, repot sekali.


Sampai akhirnya saya menyadari kalau mayoritas airlines menyediakan cadangan popok, selimut, snack dan mainan untuk anak. Saran saya lebih baik cek terlebih dahulu fasilitas yang disediakan airlines untuk anak daripada pada akhirnya kita keteteran sendiri karena terlalu banyak bawang bawaan. Membawa cukup 2 buah pampers jauh lebih simple dibanding harus membawa 8 buah bukan?


Prinsip saya saat ini saat terbang membawa anak adalah, Less is better, bawa barang bawaan sedikit dan seringkes mungkin. Karena bagaimanapun membawa anak itu sama melelahkannya dengan membawa koper besar yang bisa lari-lari sendiri.


Semakin harupun saya semakin menyadari bahwa persiapan dalam travelling dengan anak harus lebih matang, dulu saya baru mulai menyiapkan koper beberapa jam sebelum keberangkatan. Namun sekarang harus meluangkan waktu setidaknya 24 jam sebelumnya untuk mengemas.


Apa saja yang harus diperhatikan saat memutuskan jalan-jalan dengan anak?


1. Cukup bawa satu koper


Saya mungkin paham merencanakan jalan-jalan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, rasanya ingin sekali membawa koper yang banyak untuk oleh-oleh nanti. Tapi harus diingat karena saat ini kita pergi membawa anak, yang seperti saya katakan sebelumnya, sama menantangnya seperti membawa satu koper tersendiri. Saran saya, cukup hanya membawa satu koper yang besar.


Kecuali kalau memang kita mampu untuk membayar baby sitter sendiri untuk menemani perjalanan, tentu bukan masalah membawa koper lebih dari satu. Saat tiba di negara tujuan biasanya kita dan anak akan sangat lelah, padahal belum tentu kita menguasai medan atau sudah dapat check-in di hotel tujuan. Emosi akan lebih mudah terpancing saat kita lelah, anak juga lelah dan rewel, sementara kita akan kerepotan sendiri jika membawa koper banyak disertai anak.


Saya termasuk orang tua yang anti dengan koper khusus anak. Boleh kita mengajarkan disiplin dan tanggung jawab sedari kecil kepada anak dengan melatihnya membawa barangnya sendiri. Tapi percayalah, setelah berbelas jam menempuh perjalanan, anak akan terlalu letih untuk membawa kopernya yang pada akhirnya akan menjadi tugas kita untuk membawanya.



Lalu bagaimana menyiasati barang yang banyak hanya dengan satu koper? Biasanya saya menggunakan plastik vakum. Terutama jika kita bepergian saat musim dingin dimana kita harus membawa jaket dan sweater tebal. Saya contohkan digambar bawah dimana ketika saya harus bepergian saat musim dingin, jaket, sweater dan pakaian yang tadinya memenuhi setengah koper saya vakum sehingga hanya menggunakan space 1/8 bagian koper.



saya memvakum pakaian di dalam plastik vakum

Pakaian yang tadi memenuhi setengah koper di vakum hanya memenuhi 1/8 koper

Mudah bukan? sisa space bisa saya gunakan untuk pakaian lain (yang juga saya vakum), rice cooker, makanan dan keperluan lain. Saran saya, gunakan plastik vakum yang bagus, karena biasanya udara akan masuk kembali tidak lama setelah dimasukkan kedalam koper jika menggunakan plastik vakum dengan kualitas jelek. Harganya memang lebih mahal, tapi lebih baik dibanding anda harus membawa dua atau tiga koper


2. Bawa stroller


Stroller adalah hal yang wajib, setidaknya untuk selama di bandara. Saat check in pesawat, kita bisa minta izin ke petugas bandara untuk membawa stroller sampai di depan pintu pesawat. Karena saat nanti tiba di negara tujuan, kita dan anak biasanya akan sama-sama letih, dan menggendong anak bukanlah hal yang saya inginkan.


Ada beberapa negara yang tidak memperbolehkan meletakkan stroller di pintu pesawat, namun biasanya mereka menyediakan airport stroller untuk alternatif.



Saya dulu pernah lupa membawa stroller ketika bepergian ke Eropa, hasilnya mood saya dan Rana sama-sama jelek. Rana minta di gendong karena letih, dan mamanya tidak mau menggendong juga karena letih. Akhirnya saya harus mengeluarkan dana lebih untuk membeli stroller murah di Eropa.


Stroller yang saya beli di Delft, bahkan rodanya tidak bisa berputar bebas

Saat kami ke Vietnam pun babanya berpendapat kalau Rana sudah besar dan sudah tidak membutuhkan stroller lagi. Namun karena kami sama-sama letih dan berakhir dengan hampir merusak mood liburan, kami memutuskan untuk membeli tribike, stroller ringkas untuk anak usia yang lebih besar.


tribike, lebih ringkas, bisa dikendalikan satu tangan dan mudah dilipat


Walaupun tribike tidak memiliki sandaran untuk anak tidur, saya sangat merekomendasikan tribike ini untuk anak usia yang lebih besar. Mudah dibawa, mudah dilipat, mudah dikendalikan dan tidak terlalu mahal. Toh, seumuran Rana sudah bukan waktunya lagi tertidur di tengah perjalanan.


3. Barang yang harus dibawa ke Kabin


Saat Rana masih bayi, tentu saja barang yang harus dibawa banyak sekali, saya tidak akan membahasnya disini karena saya sudah tidak begitu ingat printilan wajib apa saja yang harus dibawa. Pastikan sebelum keberangkatan fasilitas masing-masing maskapai untuk infant dan jangan ragu untuk meminta kepada pramugari pesawat. Semakin banyak barang yang bisa kita kurangi untuk dibawa ke kabin tentu akan semakin baik.


Di umur Rana sekarang ini, tentu saja kami tidak perlu lagi membawa banyak barang kedalam kabin. Saya menyediakan tas punggung sendiri untuk Rana yang berisi mainan Rana, biasanya hanya buku dan pinsil warna, serta susu dan beberapa snack.


tas pribadi yang di bawa Rana, cari tas yang tidak terlalu berat dan isi dengan barang yang tidak terlalu banyak

Di tas saya, saya akan memasukkan tempat minum, snack dan makanan, susu, higienic pouch, obat-obatan, serta barang-barang penting seperti passport, HP dan dompet..


isi tas saya secara umum, di dalam pouch tertutup adalah baju ganti dan higienic essential seperti sikat gigi, odol, sabun muka dan tissue basah

Pilihlah tas yang dapat memuat banyak barang di dalamnya. Saya pribadi suka menggunakan fjallraven kanken karena tasnya ringkas dan dapat memuat banyak barang termasuk laptop saya di dalamnya.

isi tas saya, snack dan makanan saya letakkan paling atas untuk kemudahan pengambilan. Juga pouch berisi passport dan boarding pass.


4. Persiapan anak


Sebelum pergi pastikan perut anak kenyang. Tentu saja di pesawat akan disediakan makan, terutama untuk pesawat perjalanan jauh. Namun belum tentu anak akan menyukai makanan di pesawat. Saya biasanya mengantisipasi dengan membawa sedikit makanan berat seperti Roti atau mie goreng untuk jaga-jaga jika Rana tidak mau makan di pesawat.



Kalau bepergian di subuh hari, saya biasanya tidak akan memandikan Rana terlebih dahulu dan langsung membawanya. Saran saya, ambillah pesawat malam atau dini hari sehingga anak akan tertidur dan kita memiliki cukup waktu untuk istirahat.


Gunakan baju yang agak tebal dan kaus kaki karena di dalam pesawat biasanya dingin, bawalah baju ganti dan tissue basah untuk berjaga-jaga saat anak mabuk udara. Bawa essential oil untuk persediaan saat anak mual, atau biasanya saya meminta soda ke pramugari untuk mengurangi mual.


5. Persiapan orang tua


Jalan-jalan membawa anak itu sulit dan berat. Siapkan mental dan kurangi keegoisan orang tua. Itinerary boleh disiapkan sebelum keberangkatan tapi harus disadari dan diikhlaskan sejak awal jika itinerary tersebut tidak terwujud sesuai keinginan.


Apalagi jika kita bepergian ke tempat jauh dengan zona perbedaan waktu yang berbeda cukup lama. Jet lag anak adalah musuh besar orang tua saat bepergian.


Niatkan perjalanan ini untuk bersenang-senang, tidak perlu frustasi kalau anak terlalu letih dan tidak mau diajak jalan. Biasanya saya akan membawa Rana ke taman terdekat dan membiarkannya bermain dan berlari-lari sampai puas untuk mengurangi kepenatannya.


Buatlah itinerary yang longgar, dan pilihlah atraksi yang menyenangkan buat anak. Museum, taman bermain, kebun binatang bisa menjadi pilihan. Untuk pilihan jalan-jalan di malam hari, berdamailah dengan pasangan. Saya biasanya bergantian dengan suami untuk menikmati negara orang di malam hari. Kadang saya menemani Rana beristirahat di hotel dan suami pergi berkeliling sendiri, kadang suami yang beristirahat sementara saya belanja-belanja cantik di malam hari.


Have Fun travelling!