• Imi Surapranata

Mengenal studio kecil Rana

Saya mempunyai hutang kepada beberapa kawan yang menanyakan tentang studio kecil Rana, akhirnya ada sedikit waktu untuk membahasnya.


Awalnya saya tidak punya keinginan sama sekali untuk membuat studio khusus buat Rana di rumah, bagi saya, untuk anak satu kamar cukup. Ada tempat tidur, ada ruang baca, ada ruang bermain juga di dalam satu kamar. Tapi semakin besar usia Rana saya semakin menyadari kalau dia tidak tertarik dengan mainan-mainannya, mungkin hanya bermain 5-10 menit, habis itu sudah. Rana akan asik sendiri dengan pulpen dan kertasnya.




Mungkin seperti kata pepatah, ala bisa karena biasa. Empat tahun pertama kehidupan Rana memang tidak seperti anak lain pada umumnya, dia menghabiskan waktu antara 2 negara, saya yang masih menyelesaikan S3 saya di Jepang, dan babanya yang sudah balik ke Indonesia duluan. Di antara waktu itu Rana banyak ikut saya bepergian ke satu negara ke negara lain, dari satu prefecture ke prefecture lain. Dan diantara kesibukan saya, Rana ikut serta sambil di temani oleh ibu saya yang sangat luar biasa, mau menyokong saya menyelesaikan S3 saya sambil mengasuh Rana di usianya yang tidak lagi muda.


Yang namanya menitipkan anak, saya tidak bisa banyak protes terhadap cara ibu saya mendidik Rana. Mungkin karena beliau juga sudah sepuh, sudah bukan lagi usianya untuk kejar-kejaran atau menemani Rana bermain ABCDE, Rana jadi banyak menghabiskan waktu dengan gadget. Pun ketika Rana bersama saya, saya yang sudah letih dengan penelitian, maunya di rumah Me-time saja sambil buka-buka pinterest, instagram, youtube, dll ampai akhirnya saya agak sedikit 'mengacangi' Rana dan membiarkan dia semakin terjun ke dalam dunia gadget.


Beruntung lingkungan pertemanan saya di penuhi oleh ibu-ibu yang konsen dengan pendidikan anak, yang banyak berdiskusi bagaimana caranya meminimalisir efek gadget pada anak, dsb. disini saya baru mulai menyadari kalau waktu Rana dengan gadget sudah melampaui waktu yang diperbolehkan, dan saya mulai menarik rem pada diri saya sendiri, untuk mulai meninggalkan gadget saat saya bersama Rana.


Masalah muncul karena Rana banyak menghabiskan waktu di pesawat dan di shinkansen. Delapan jam perjalanan dengan pesawat bukan waktu yang singkat, anak cepat bosan dan saya sudah letih duluan di perjalanan. Sementara saya tipe ibu-ibu yang ogah ribet bawa berjuta printilan ke dalam pesawat (see my post : rules of traveling with kid). Biasanya kalau begini saya memperbolehkan Rana untuk menonton tayangan entertainment di dalam pesawat (duh, gadget lagi).


Sampai akhirnya suatu waktu Rana sering penasaran terhadap apa yang saya lakukan, saya suka sekali membawa notes kecil dan pulpen kemana-mana. Jika ada suatu ide terlintas dalam benak saya, saya akan mencoretkannya di notes itu. Awalnya saya cukup terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan Rana, biasanya saya hanya menjawab sekilas, mama cuma 'coret-coret iseng-iseng'.


Kemudian lama-lama Rana tertarik untuk melakukan 'coret-coret iseng-iseng' juga seperti saya, walaupun awalnya coretannya hanya coretan abstract dan tidak berbentuk, tapi dia lebih sering tertarik dengan buku dan pulpennya di banding gadget yang saya beri.




Dari sini saya mulai semakin mantap menarik pelan-pelan gadget dari Rana, dan memberikannya buku dan pulpen, dua barang yang gak bikin ribet kalau di bawa perjalanan jauh. Tapi kemudian masalah kembali muncul karena Rana semakin sering menyalurkan 'coretan iseng-isengnya' di wadah yang berbeda, dinding, kursi, meja, dll. Not to judge another parents, but I really hate when I visited someone's house and see the abstract kid's painting on the wall, and now my kid doing exactly that. Kid is being kid, dikasih tahu berkali-kali pun gak mau dengar.


Akhirnya saya memutuskan menyediakan ruangan khusus untuk Rana coret-coret di lantai atas, di ruangan jemur yang memang kebetulan tidak pernah saya pakai.




Awalnya niat saya adalah menjadikannya ruang bermain, dikasih prosotan, tempat Rana meletakkan mainan, buku, dll. Sampai kemudian secara tidak sengaja saya bertemu dengan IG @artpantry (please check her IG), and think why not? Rana saya belikan mainan mahal-mahal (sebagai wujud rasa bersalah saya yang ninggalin dia mulu), dan cuma dimainkan sebentar kemudian dihilangkan. Saya awalnya mau memberi nama messy room, tempat Rana main kotor-kotoran, pasir, cat, gliter, dll, tapi kemudian memutuskan memberi nama studio, tok. Studio imajinasi, imajinasi apapun yang kelak dia inginkan, science, art, bookworm, apapun.


Awalnya saya sediakan semua fasilitas di studio Rana, tapi kemudian saya perhatikan dia hanya menyentuh peralatan melukis. Dimulai dari yang sederhana, saya hanya memberikan pensil warna dan krayon, lama-lama saya tambahkan cat air, kemudian saya ganti dengan akrilik, kertas gambar saya ganti dengan kanvas, dan terus sampai akhirnya tanpa saya sadari studio Rana berubah menjadi ruang lukis. Rana pun lebih senang menyebutnya dengan sebutan ruang lukis, saya masih menyebutnya studio dengan bayangan, kalau suatu hari Rana bosan dengan lukis melukis, dia tetap memiliki studionya yang bisa digunakan untuk apapun yang dia mau.




Sekarang di ruangan ini adalah ruangan pelarian Rana kalau dia marah sama mamanya, ruangan dia menyalurkan 'coret-coret iseng-isengnya', ruangan dia membuat hadiah dan surat cinta untuk semua sepupu-sepupunya, dan terkadang menjadi ruang kerja saya juga karena Rana sering minta ingin di temani


Untuk peralatan melengkapi studio Rana, saya membeli dari 3 tempat. Pertama adalah pasar grosir Asemka, tempat favorit saya. Saya bisa mendapatkan barang dengan harga 1/3-1/4 jika di bandingkan saya membeli di toko buku.



Kebanyakan saya membeli peralatan melukis, peralatan seni, kanvas, dll di pasar ASEMKA ini


Tempat kedua yang sering saya gunakan untuk studio Rana adalah daiso japan, karena saya cukup sering bolak balik ke Jepang, saya sering sekali mampir ke daiso untuk membeli barang-barang unik yang murah dan berkualitas.



see my post for guide to shop cheaply in Japan


Dan tempat terakhir yang saya sering jadikan tempat acuan untuk membeli adalah aliexpress yup! marketplacenya Jack Ma ini dari dulu sering saya jadikan acuan karena banyak menjual barang yang unik dan tidak biasa. Sayang memang barang bisa dikirim dalam waktu lama sekali dan harga sangat tergantung kepada kenaikan dolar.