• Imi Surapranata

Mencegah publikasi di jurnal predator



Beberapa hari yang lalu kawan saya, seorang dosen di sebuah universitas negeri bercerita kalau dia baru saja tertipu oleh jurnal predator. Ini bukan pengalaman yang pertama, bayarnya pun tidak murah, 5.6 juta rupiah. Beberapa hari yang lalu lagi kawan saya yang lain, dosen di sebuah universitas swasta juga tertipu ketika akan publikasi, bayarnya 7 juta rupiah.


Ternyata kasus kasus seperti ini cukup banyak terjadi di dunia akademik, bukan hanya mahasiswa, bahkan dosen berpengalaman pun tidak jarang tertipu oleh iming-iming jurnal predator.


Sekitar pertengahan akhir tahun lalu saya kebetulan di berikan kesempatan untuk terlibat dalam program kuliah tamu visiting professor dan diaspora untuk mahasiswa S2 dan S3 di universitas saya. Beberapa kuliah tamu membahas tentang penulisan jurnal ilmiah, cara penulisan proposal, penyampaian data dalam presentasi oral, penulisan artikel ilmiah dan menghindari jurnal-jurnal predator. Pembicaranya pun bukan orang sembarangan, para chief editor dari jurnal-jurnal bereputasi internasional dengan H-index rata2 diatas 40 atau dosen-dosen dari Universitas unggulan dari berbagai negara seperti Tsukuba, McGill, Texas, Glassgow dll.


Dari beberapa bahasan tersebut yang paling banyak menimbulkan pertanyaan memang mengenai jurnal predator. Tidak bisa di pungkiri memang sejak pandemik berlangsung banyak sekali orang yang terkena dampaknya. Segala cara baik halal maupun haram di lakukan agar perut terisi. Termasuk di antaranya adalah semakin bermunculannya jurnal-jurnal predator.


Di 2020 kemarin saja saya tiba-tiba mendapatkan banyak sekali undangan untuk memasukkan artikel di Jurnal, hampir 10 jurnal yang saya cek ternyata tidak terdaftar di situs jurnal bereputasi.


Apa sih jurnal predator itu?


Jurnal / penerbit predator adalah jurnal yang tingkat kredibilitasannya "dipertanyakan", mereka adalah jurnal-jurnal yang tidak memiliki pembiayaan yang jelas, kurangnya standar atau kredibilitas akademis, dan biasanya menggunakan tata cara yang cukup agresif untuk merekrut penulis dan editor (Butler, 2013). Cara kerja penerbit predator dan proses editorialnya biasanya memang berniat untuk menipu baik penulis maupun pembaca.


Lalu kenapa sih bisa bermunculan jurnal-jurnal predator?


Area publikasi itu bisa dibilang area yang cukup subur dan menarik.


Seorang peneliti, terutama dosen memiliki kewajiban publikasi ilmiah untuk kelancaran karirnya. Belum lagi hadiah yang di terima dari universitas berupa insentif yang tidak sedikit jika berhasil menerbitkan hasil penelitiannya membuat dosen berlomba-lomba untuk mempublikasikan tulisannya di jurnal ilmiah baik dalam maupun luar negri.


Dana hibah yang tersedia-pun cukup besar, untuk kami di bidang kedokteran, dana hibah yang disediakan universitas pun bisa menembus angka 150-200 juta. Belum dana-dana hibah yang disediakan baik dari institusi pemerintah, swasta, atau kalau pintar mencari, internasional. Besaran angkanya pun tidak main-main.


Rata-rata dana hibah hanya berjalan untuk waktu satu tahun, artinya output sudah harus ada sebelum laporan monev di lakukan. Akibatnya, peneliti banyak berkejaran dengan waktu. Padahal jurnal-jurnal bereputasi dengan index factor yang tinggi bisanya memakan waktu berbulan-bulan untuk bisa di terima. Belum harganya yang di patok sangat mahal sekali. Publikasi di jurnal sangat bereputasi seperti nature bahkan dikabarkan menyentuh angka 7.000 USD untuk satu publikasi open access


Waktu publikasi yang lama dan harga yang tidak murah padahal berkejaran dengan waktu tentu saja membuat tawaran publikasi cepat dengan harga yang terjangkau seperti angin segar. Angka 7 juta tentu saja jauh lebih murah daripada 7.000 USD bukan?, belum iming-iming “the article will be published in two weeks” wah…


Celah inilah yang banyak dimanfaatkan oleh para penerbit predator. Mereka memanfaatkan kebutuhan peneliti dan akademisi untuk mempublikasikan hasil karyanya. Belum lagi rasio jurnal bereputasi baik yang masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah peneliti dan dosen (dan mahasiswa) yang ingin mempublikasikan karyanya


Lalu bagaimana sih caranya mengenali jurnal predator?


Saya pernah berdiskusi tentang pertanyaan ini dengan seorang diaspora yang juga chief editor dari jurnal kedokteran Q1 di Kanada sana. Menurut sang prof, pada dasarnya sulit sekali memang mengenali jurnal predator, karena mereka sendiri semakin lama sudah semakin pintar.


Tapi ada beberapa tanda-tanda yang membuat kita harus awas dan mencurigai bahwa sebuah jurnal itu predator :

1. System editing yang buruk dan tidak ada peer-review sama sekali.

Kunci dari penerbit yang kredibel adalah proses penjagaan kualitas terbitan yang sangat ketat, jika jurnal bisa langsung segera di terbitkan, artinya minim atau bahkan tidak ada peer-review atau edit dari tulisan anda


2. Sangat agresif mengirimkan permohonan permintaan penulisan artikel. Jurnal yang berkualitas biasanya tanpa perlu mengirimkan permohonan permintaan artikel orang pun sudah mengetahui kredibilitasnya. Memang tidak semua jurnal yang mengirimkan email perminttan artikel adalah predator, namun jika mereka sangat agresif mengirim email, anda sudah harus waspada


salah satu jurnal yang sangat agresif, mohon maaf saya sensor namanya

3. Menerapkan praktek yang tidak etis dan tidak professional. Pelayanan yang mereka sediakan tidak sesuai dengan bormbartisnya pengiklanan mereka. Terkadang tim editor pun tidak memahami tentang prinsip-prinsip penulisan artikel yang baik, atau macam-macam style penulisan referensi. Pernah ketika menelpon ke chief editor sebuah jurnal lokal, sang chief editor kalang kabut ketika ditanya terkait hal-hal penulisan ilmiah. Kalau hal ini terjadi, tidak ada salahnya anda mem-blacklist jurnal tersebut


4. Membanggakan impact factor atau system pengindeksan. Hal ini biasanya mereka tuliskan di judul email atau dengan tulisan yang besar. Jurnal X dengan impact factor Y, namun ternyata tidak terbukti.


5. Tidak mampu memenuhi kaidah-kaidah standar publikasi ilmiah


Selain kerugian secara finansial, ada beberapa alasan yang menyebabkan sebaiknya kita harus menghindari publikasi di penerbit predator ini :

1. Publikasi anda tidak terproteksi sehingga ada kemungkinan hasil kerja anda akan hilang suatu hari nanti. Rasanya sayang sekali melakukan penelitian berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lalu hilang begitu saja.

2. Proses editing dan peer-review sangat buruk membuat kualitas tulisan anda menjadi tidak maksimal

3. Orang lain bisa jadi enggan untuk mensitasi tulisan kita karena kedibilitas jurnal di pertanyakan. Hal ini tentu saja membuat tulisan kita enggan di baca oleh orang lain. Secara akademis-pun rasanya malu karena tulisan kita terbit di jurnal abal-abal

4. Kasus yang ekstrim, ada yang publikasi di jurnal predator bisa mengancam karir akademis karena terkait dengan masalah etik

5. Sekali karya kita di terbitkan di jurnal predator, akan sangat sulit untuk menariknya kembali agar bisa di publikasikan di jurnal lain yang bereputasi

6. Uang insentif yang kita terima karena menerbitkan jurnal bisa di tarik kembali oleh universitas jika terbukti jurnalnya adalah jurnal predator


Lalu bagaimana caranya menghindari jurnal predator ini? Ada beberapa trik-trik yang bisa kita gunakan untuk mengurangi resiko terjebak dalam pusaran jurnal predator.


1. Cari tahu

Selalu cari tahu tentang jurnal yang anda ingin publikasikan di situs pengindeks terpercaya. Apakah jurnalnya terdaftar di jurnal Scimago? Sinta? Copernicus? Atau situs pengindeks jurnal terpercaya lainnya?. Jika tidak terdaftar, coba cari di situs pencari seperti google dengan mengetik “nama jurnal, predator", jika penerbit tujuan anda di curigai bermasalah, biasanya akan ada peringatan dari beberapa situs akan kemungkinan predatornya jurnal tersebut


salah satu jurnal yang dicurigai predator

Atau anda bisa menggunakan situs seperti Beall’s List yang sudah merangkum hampir seribu jurnal-jurnal dan penerbit-penerbit yang terindikasi sebagai predator. Walaupun memang ada beberapa kritisi yang mempertanyakan beberapa jurnal yang sebenarnya tidak predator tapi masuk ke dalam list di situs beall’s list, bagi saya tidak ada salahnya menjadikan situs ini sebagai acuan untuk berjaga-jaga



2. Pembiayaan

Jika jurnal tujuan anda adalah jurnal open access yang menarik APC (Article Processing Charge), berhati-hatilah. Jurnal predator biasanya meminta bayaran di awal sebelum dilakukan peer-review. Pengalaman saya selama ini biasanya mengirimkan artikel ke chief editor, menunggu peer-review, revisi baik major ataupun minor, menunggu komentar reviewer Kembali, kemudian setelah semua selesai, baru bill akan dikirimkan untuk menyelesaikan proses pembayaran. Pengalaman teman saya yang pernah terjebak oleh jurnal predator, mereka mengajukan artikel, kemudian langsung dikirimkan bill saat itu juga.


3. Peer-review

Jurnal yang baik adalah yang melakukan peer-review dari artikel yang anda kirim. Proses peer-review ini lah yang kadang memakan waktu lama sekali. Tingkat kuartil jurnal kadang tidak mempengaruhi lamanya publikasi, saya pernah publikasi di Q1 hanya membutuhkan waktu satu bulan dari pengiriman artikel hingga pembayaran, tapi saya juga pernah menghabiskan 2,5 bulan di jurnal dalam kategori Q3.


Jika jurnal yang anda ajukan tidak melakukan peer-review, anda sudah harus waspada. Kalau jurnalnya tidak predator, berarti hanya jurnal biasa yang mungkin kurang bereputasi. Salah satu kecurigaan kurang atau tidak adanya peer review adalah jika jurnal tersebut melakukan publikasi dengan cukup sering, 3-4x publikasi dalam 1 tahun.


4. Selalu inget, think, check, submit. Cari tahu tentanng jurnal dan penerbitnya, cek kembali semua hal terkait jurnal tersebut termasuk kredibilitas tim editor sebelum submit tulisan anda.




Saya ingat ada satu jurnal yang sangat intens mengirimkan undangan untuk publikasi ke saya, hampir setiap hari undangan itu datang. Judulnya pun sangat memikat, impact factor 5 koma, luar biasa. Iseng saya cek di website jurnal ternyata ada tulisan merah “predatory alert”, kemudian saya iseng buka satu persatu artikelnya, 90% penulis-nya adalah orang Indonesia. Saya pernah membaca data dari sebuah penelitian, saya lupa sumbernya, negara dengan penyumpang tulisan terbesar di predatory journal adalah Indonesia. Sayang sekali padahal terkadang tulisan mereka sebenarnya bagus dan penelitiannya pun menarik. Namun tuntutan publikasi untuk karir dan hibah yang terkadang tertunda-tunda cairnya membuat Indonesia menjadi sasaran empuk para predator


Yuk, kita mulai perbaiki dan hati-hati lagi dalam mengirimkan tulisan.


Think, Check, Submit!!



Referensi :

Butler, Declan (2013). Investigating Journals: The dark side of publishing. Nature, 495 (7442), 433-435


0 komentar