• Imi Surapranata

Ho chi Minh : Itinerary santai enam hari bersama anak di Vietnam

Bulan Juli tahun 2018 lalu, saya, Rana dan baba berkesempatan mengunjungi Ho Chi Minch city, Vietnam. Ini pertama kalinya bagi kami bertiga mengunjungi negara yang cukup terkenal karena berhasil menaklukkan tentara Amerika di perang Vietnam ini.


Karena kami mendapatkan tiket promo dari brunei airlines sejak jauh hari, kami punya cukup waktu untuk mempersiapkan itinerary perjalanan kami di Vietnam. Sayangnya memang semua rekomendasi tempat wisata rasanya tidak compromise untuk jalan-jalan bersama balita. Entah itu harus naik bis selama berjam-jam atau mendatangi medan yang berat.


Akhirnya kami memutuskan untuk menjadikan perjalanan kali ini menjadi perjalanan super santai. Tujuan utama kami adalah mencicipi kuliner Vietnam yang lezat namun gaungnya kurang terasa di Indonesia.


perjalanan santai kami ke Vietnam Juli tahun lalu

Berikut adalah itinerary singkat kami selama 6 hari di Ho Chi Minh.


Hari I

Kami tiba di bandara Tan Son Nhat di siang hari. Rata-rata travel blogger menyarankan kami untuk menaiki taxi berargo dari bandara untuk menghindari over tarif, antara vinasun atau mailinh. Tetapi kalau bepergian dengan balita saya sangat tidak menyarankan untuk menaiki taksi. Cobalah untuk menaiki bis atau membayar ekstra taksi yang disediakan agen di dalam.


Kami mengalami pengalaman yang sangat tidak menyenangkan ketika menunggu taksi di bandara. Bandara Vietnam itu sangat crowded, dan sayangnya mereka tidak memiliki antrian taksi yang jelas. Ketika kami menuju tempat antrian taksi, petugas menyuruh kami untuk berdiri di pinggir jalan sambil melambai-lambaikan tangan setiap ada taksi datang. Sayangnya jumlah taksi sangat tidak berbanding dengan banyaknya orang yang mengantri.


Taksi pun tidak mengambil penumpang berdasarkan antrian, tetapi dia akan memilih siapa yang memiliki wajah Vietnam (atau setidaknya Asian face) dan mengambilnya, walaupun orang tersebut baru saja datang lima menit yang lalu. Pada akhirnya, saya dan beberapa orang yang tidak memiliki wajah Asia hanya berdiri bingung karena tidak ada taksi yang mau mengambil kami, petugas pun sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris


Setelah berdiri hampir dua jam dan di selak puluhan orang Vietnam yang tidak mau mengantri, di tambah Rana yang mulai rewel dan mood yang sudah mulai agak kacau, akhirnya baba memberhentikan paksa taksi yang lewat. Agak sedikit pelotot-pelototan dnegan seorang Vietnam yang tiba-tiba buka pintu dari arah sebaliknya ketika kami mau memasukkan barang.


I do not know the rules here, but we have been standing for 2 hours so you have to stand in queue, ryt?


Jadi kalo kamu emang berniat jalan ke Vietnam membawa anak, pesanlah taksi di dalam bandara yang memang agak sedikit menguras kantong tapi setidaknya tidak harus menghadapi kesemrawutan Vietnam dari awal.


Kami menginap di hotel Asian ruby center point, sekitar setengah jam dari Tan Son Nhat airport namun terletak pas di tengah kota Ho chi minh. Dihari pertama saya hanya menemani Rana istirahat di hotel setelah check-in. Maklum Rana sudah kecapean menunggu taksi lama di bandara.


Hari ke-2

Esoknya setelah sarapan pagi di hotel kami mulai berkeliling Ho Chi Minh. Yang pertama terlihat mencolok dari suasana kota ini adalah banyaknya penjual makanan dan kopi di pinggir jalan. Seperti halnya pedagang kaki lima di kota Jakarta, penjual-penjual ini menjajakan makanannya di trotoar kota. Bedanya, mereka tidak membawa gerobak seperti di Jakarta melainkan bakul seperti penjual jamu zaman dahulu. Pedagang ini pun menyediakan kursi dingklik plastik untuk orang makan di pinggir jalan.



Hotel kami ternyata terletak tidak jauh dari alun-alun tempat dimana patung uncle Ho berada, dengan latar belakang people's committee building, kami membiarkan Rana berlarian sejenak untuk melepaskan penat seharian di hotel kemarin.


Tujuan pertama kali adalah restoran halal Pho muslim yang sangat terkenal. Kami memesan taksi melalui petugas hotel untuk di antar ke warung pho muslim. Review tentang rumah makan tersebut bisa dilihat di postingan saya disini.


Pho yang kami pesan di warung makan Pho muslim


Saat pulang ternyata kami mengalami hal yang sama seperti di bandara, tidak ada taksi yang mau berhenti mengambil kami. Beruntungnya jarak hotel ke restoran hanya sekitar 2 km, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke hotel.


Vietnam tentu saja terkenal dengan kopi Vietnamnya. Warung kopi di Ho chi minh pun hampir bisa di temukan di setiap sudut jalanan, dari mulai penjual kopi tradisional di warung pinggir jalan sampai kafe-kafe fancy yang tersusun bertingkat.


kafe yang tersusun vertikal di Ho Chi Minh


Karena kebetulan kami tidak membawa stroller untuk Rana, kami memutuskan berhenti tiap sebentar untuk duduk di pinggir jalan dan mencicipi kopi Vietnam dan es jeruk. Sambil menikmati pemandangan kota Ho chi minh.


Ternyata kalau kita memesan kopi Vietnam, mereka akan memberikan kita segelas kopi manis hitam loh, bukan kopi drip Vietnam yang terkenal di Indonesia.


Tapi biarpun kopinya instan rasanya tidak kalah dengan kopi-kopi yang dijual di kafe kopi di Indonesia. Saya mencoba berbicara dengan bahasa isyarat dengan penjual tentang kopi di Vietnam, ia menunjukkan bungkusan kopi yang digunakannya. Karena kebetulan adik saya mengelola sebuah kafe, saya bertanya mengapa kopi instan Indonesia rasanya berbeda jauh dengan kopi instan Vietnam. Ternyata menurut adik saya kopi instan yang di jual di Indonesia kebanyakan sudah di campur dengan jagung. Pantas


Saya menikmati kopi Vietnam seperti orang Vietnam pada umumnya, duduk dengan kursi plastik sambil menghadap jalan Vietnam yang semrawut, namun tidak sepanas dan tidak sesesak Jakarta. Rasanya tidak jauh beda dengan duduk di pinggir jalan di kafe di Paris, tentu saja dengan nuansa yang sedikit berbeda.


satu dari beberapa pemberhentian kami saat jalan pulang


Kopi pinggir jalan ini hanya dijual 10.000 VND atau sekitar 6.000 rupiah. Kopi yang dijual adalah jenis dari kopi robusta dan memiliki rasa yang lebih kuat dibanding kopi arabica. Kami juga memesan segelas es jeruk untuk Rana.


Tidak lupa juga suami saya ingin merasakan sensai sepatunya di semir untuk pertama kali


tukang semir sepatu di jalan, di Jakarta masih adakah tukang semir sepatu d jalanan seperti ini?


Rupanya setelah kami perhatikan, orang Vietnam sering sekali keluar kantor untuk duduk-duduk ngopi sambil di semir sepatunya. Saya malah sempat melihat para petugas bank duduk di kursi dingklik di depan banknya. Begitu ada customer masuk, salah satu dari mereka akan masuk dan melayani kemudian duduk kembali di luar sambil mengopi. Lucu juga ya..


Hari ke-3


Esoknya kami mengunjungi Ben Than Market yang terkenal. Kami memesan es cendol Vietnam dan berkeliling seharian di dalam pasar.


Sayangnya barang yang dijajakan tidak jauh berbeda dengan yang di jual di pasar grosir di Indonesia. Semuanya barang buatan China namun dengan harga yang jauh lebih mahal. Kami makan siang di kampung pandan restoran yang terletak tidak jauh dari pasar dan mencicipi Vietnam spring roll halal


Di perjalanan pulang saya mencoba rujak yang dijual oleh pedagang bakulan pinggir jalan. Mangga muda yang digunakan garing namun tidak terasa asam, anehnya mereka menambahkan daun ketumbar dan telur rebus di campuran rujaknya. Tapi ternyata perpaduan rasa antara mangga muda, cabai, daun ketumbar dan telur rebus enak sekali loh..


rujak mangga di vietnam, perpaduannya aneh tapi rasanya enak


Tidak lupa tentu saja kami menghabiskan hari dengan duduk-duduk di warung pinggir jalan dan berlarian di alun-alun depan patung uncle Ho.



Hari ke-4

Di hari ke-4 karena hujan lebat dari pagi kami memutuskan untuk untuk menghabiskan waktu di mall dan membeli tribike buat Rana. Jalan bersama anak tanpa membawa stroller ternyata BIG NO sebesar apapun usia anaknya ya..


Setelah itu kami mampir sebentar di toko buku kemudian kembali mencari kopi. Kali ini saya ingin mencoba merasakan meminum kopi di kafe modern Ho Chi Minh bukan hanya warung kopi pinggir jalan. Anehnya biarpun kafe modern, mereka menyediakan kursi dingklik di pinggir jalan yang ternyata penuh. Kamipun akhirnya harus minum di dalam bukan di pinggir jalan seperti yang biasa kami lakukan


kafe modern Vietnam

karena harga kopi hitamnya 4x lipat dari yang dijual di pinggir jalan, kami akhirnya memutuskan untuk membeli frappucino. Rasa kopinya lebih kuat dibanding yang dijual di kafe Jakarta


Sorenya kami berjalan kaki melihat laut dan kapal, bagian paling menyenangkan dari perjalanan ini untuk Rana.


taman di pinggir pantai

Saya mencoba membeli rujak yang saya beli kemarin, namun sepertinya penjual rujak salah menangkap ucapan saya. Saya diberikan rujak kulit lumpia dengan telur rebus dan daun ketumbar serta sedikit mangga muda. Uh!



Hari ke-5

Di hari terakhir kami berjalan kaki cukup jauh mengunjungi Notre Dame Cathedral dan Saigon Central Post Office.





Kami berniat mengunjungi war remnant museum namun sayang sekali tutup ketika kami datang. Akhirnya kami hanya duduk-duduk minum kelapa muda yang di jual oleh ibu-ibu pedagang kaki lima sambil bercengkrama sekedarnya dengan mereka


Di perjalanan pulang kami mampir sebentar ke Ben Than Market untuk mencari oleh-oleh namun akhirnya menyerah karena mereka tidak mau menurunkan harga. Menurut saya harga yang terpasang di Ben Than Market sangat mahal untuk ukuran pasar tradisional, bahkan pasar di Hongkong bisa menawarkan harga yang jauh lebih murah.


Kami akhirnya pergi ke kios-kios di dekat hotel yang ternyata memang harganya lebih murah. Oleh-oleh khas Vietnam adalah biji lotus, saya membeli kacang biji lotus, coklat lotus dan tentu saja kopi untuk dibawa pulang


Hari ke-6

Karena pesawat kami pukul 12 siang, kami memutuskan untuk mencari jajanan pinggir jalan di Vietnam. Kami membeli segelas kembang tahu, kemudian tentu saja meminum kopi di pinggir jalan lalu membeli waffle dan tak lupa rujak mangga Vietnam



Kami kembali ke Jakarta melewati Bandar Seri Begawan sehari.