• Imi Surapranata

Hidup lebih tenang dengan financial planning yang baik

Diperbarui: Jul 20

Mungkin tidak banyak yang tahu, namun sejak satu tahun yang lalu saya resign dari tempat kerja lama saya yang baru beberapa bulan saya tempati, kemudian mendaftar menjadi seorang CPNS di salah satu perguruan tinggi negri di Jakarta. Banyak yang bilang saya gila, berapa sih gaji seorang PNS? apa tidak sayang saya sekolah jauh-jauh S3 keluar hanya untuk dibayar tidak seberapa oleh negara?. Alasan saya pindah dari tempat lama karena gaji yang saya peroleh dari tempat kerja yang sekarang mungkin cukup besar, namun 10-15 tahun lagi skill dan pengetahuan saya akan tetap sama dan gaji saya mungkin juga akan tetap sama.


Alhamdulillahnya, kedua orang tua, mertua dan suami mendukung penuh keputusan saya. Yang paling saya ingat ucapan dari ayah saya ketika saya memutuskan resign adalah, "kamu sekarang tidak berada di posisi emergency untuk mencari uang (suami berpenghasilan cukup dan tidak ada hutang), yang kamu butuhkan adalah aktualisasi diri kamu, mumpung kamu masih muda, pergunakan waktu kamu untuk mengembangkan diri dan potensi kamu sebesar-besarnya,"


Anyway, salah satu resiko menjadi seorang CPNS adalah gaji saya harus dipangkas habis-habisan. Ditambah, saya menggunakan jalur sangat nekat, resign sebelum pengumuman tahap pemberkasan awal, yang artinya saya adalah seorang pengangguran selama proses tahapan-tahapan seorang CPNS, pemberkasan, ujianSKD, SKB, pengumuman hingga SK turun, yang memakan waktu sekitar 7 bulan.


Selama waktu menunggu itu otomatis penghasilan utama saya hanya dari suami, cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari keluarga kecil kami namun belum mampu menutupi hobi saya yang semakin menggila karena saya officially jobless, travelling. Selama waktu 7 bulan menganggur saya memanfaatkan waktu untuk mengunjungi Vietnam, Singapur, Malaka, Jepang dan beberapa daerah di wilayah Indonesia. Sumber dana? tentu saja dana tabungan saya yang tidak seberapa dan dana tabungan suami.


Alhasil dalam waktu 7 bulan kami hampir bangkrut, tabungan saya habis, tabungan suami? beliau bilang tabungannya juga habis, namun beberapa bulan kemudian saya baru mengetahui suami menyelamatkan sebagian tabungannya agar tidak bisa di jamah oleh kegilaan sementara saya, thank god.


Bersyukurnya di tengah-tengah kegilaan saya, saya tiba-tiba mendapat email nyasar tentang informasi acara financial planning untuk keluarga kecil, pembawanya salah satu financial planner yang masih muda dan sukses, mba Prita Ghozie. Saat itu saya belum menyadari betapa pentingnya perencanaan keuangan, sehingga saya menganggap acuh email itu. Namun suami menyuruh saya untuk ikut, hitung-hitung belajar sedikit tentang keuangan itu seperti apa


Setelah mengikuti acara itu saya menyadari betapa jeleknya keuangan saya, emergency fund NOL, portofolio kosong, retirement plan gak pernah terpikirkan sama sekali, pendidikan anak apalagi, tabungan haji mandek, dll. Semua pendapatan habis untuk travelling.


Saya mulai pelan-pelan mengatur keuangan saya, berdasarkan panduan buku karangannya mba prita sendiri, Make it Happen


Yang mau mencoba memperbaiki keuangannya seperti saya bisa di coba deh baca bukunya mba prita ini


Pendapatan dari suami saya bagi langsung ke dalam tiga tabungan berbeda, Living, Saving and Playing sesuai dengan panduan dari bukunya mba Prita.


Alokasi pembagian gaji berdasarkan bukunya mba prita, di ambil dari IG-nya zapfinance

Selain itu saya juga unsubscribe semua email langganan dari perusahaan-perusahaan penerbangan dan hotel, mengurangi kebiasaan makan diluar dan mulai memasak sendiri dan membuka akun saving di beberapa sekuritas saham dan reksadana. Saya juga menginstall aplikasi untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan saya dalam satu bulan menggunakan aplikasi "money lover"


Dengan aplikasi ini saya bisa melihat laporan neraca keuangan saya setiap bulannya, apakah minus atau tidak


Laporan keuangan yang bisa saya awasi di aplikasi finansial

Dengan mencatat keuangan, saya bisa melihat dimana kelebihan dana terbuang saya yang sebenarnya bisa di pangkas. Misalnya, saya menyadari saya termasuk generasi milenial yang ingin terlihat cool di media sosial, salah satunya dengan mengupdate setiap kopi kekinian yang saya nikmati. sehari saya bisa membeli 1-2 gelas kopi kekinian. Setelah menghitung-hitung, dalam dua bulan membeli kopi kekinian, saya bisa mendapatkan satu buah mesin espresso sederhana. Mengupdate kopi hasil buatan sendiri-pun kelihatannya lebih cool dibandingkan kopi-kopi kafe yang siapapun bisa mengakses bukan? Akhirnya saya memutuskan membeli mesin espresso dan berhenti (setidaknya mengurangi) nongkrong-nongkrong cantik di kafe.


Awalnya saya menginstall beberapa jenis aplikasi finansial baik dari dalam maupun luar negri, namun saya pribadi menganggap aplikasi ini yang paling mudah, tidak berbayar dan bisa membuat berbagai macam dompet yang berbeda


Beberapa dompet di dalam aplikasi finansial

Sekarang sudah satu tahun lebih sejak saya resign dari tempat yang lama, saya sudah resmi menjadi seorang CPNS dan bekerja di institusi saya sekarang ini selama 4 bulan. Gaji saya? jangan ditanya, bahkan masih dibawah UMR Jakarta. Kalau mau mengutip ucapan teman saya, "anggap aja satu tahun ini kita belajar tapi dibayar mi..". Karena dalam 4 bulan saya disini, saya selalu diikutkan pelatihan-pelatihan yang menambah wawasan dan skill saya.


Karena saya juga sudah mulai mengatur keuangan saya, saya tidak menjadi terlalu pusing dengan gaji yang tidak seberapa ini. Setiap saya mendapatkan gaji baik dari suami maupun dari negara, langsung saya sisihkan di dompet-dompet yang berbeda. Saya keluarkan dulu untuk kewajiban, kemudian sisihkan untuk simpanan, dan sisanya tinggal berkreasi dengan dana yang ada untuk hidup. Hidup saya menjadi sedikit lebih tenang, saya percaya memang rejeki itu sudah diatur oleh yang diatas, tapi alangkah baiknya kalau kita ikut berusaha memproteksi rejeki yang sudah diberi oleh sang pencipta bukan?


Untuk hobi saya travelling, saya punya tabungan terpisah sendiri yang saya simpan dalam bentuk reksadana pasar uang. Mengatur keuangan bagi saya bukan berarti menghilangkan hobi, hanya menyiasatinya dengan cara yang lebih smart dan bijak saja.