• Imi Surapranata

Haruskah 'homeschooling' saat pandemi, atau cukup dengan 'schooling at home?'

Diperbarui: Agt 21


Tulisan di pintu masuk 'kelas rumah' Rana

Sejak wabah COVID-19 masuk Indonesia awal Maret tahun ini, seluruh tatanan kehidupan yang sudah berlangsung selama ini jadi kacau balau. Banyak yang bekerja akhirnya kehilangan pekerjaan, dunia di ambang resesi, ibu-ibu 'terpaksa' untuk menjadi guru dadakan bagi anak-anaknya dan banyak hal lainnya.


Saya selalu bilang sama suami, keadaan apapun yang terjadi sekarang, kita harus bersyukur masih ada atap untuk tidur, masih tersedia makanan di meja makan, masih bisa terima gaji bulanan di rekening


Tapi rasanya bersyukur itu sulit ketika menghadapi drama 'schooling at home'; sudah tidak terhitung jari saya protes ke guru-guru di sekolah anak saya, protes ke yayasan, bahkan sampai mengajak zoom pihak yayasan. Saya sempat menumpahkan unek-unek saya tentang beda pendidikan dan pengajaran di blog saya ini.


Berat, sangat berat. Di satu sisi saya menganggap pendidikan di sekolah anak saya kurang. Protes saya keras sekali mengingat SPP yang saya keluarkan cukup besar tapi tidak sebanding dengan apa yang di terima. Saya merasa kok rasanya sekolah tidak siap menghadapi perubahan ini. Masih banyak yang tidak mengerti teknologi, masih banyak yang bahkan menggunakan power pointpun kesulitan, masih banyak yang lebih memilih menghilangkan interaksi sosial dengan murid dalam proses pembelajaran jarak jauh


Seakan peran guru di gantikan total dengan teknologi


Ketika sedang mendiskusikan masalah ini dengan ayah saya, ayah sy lantas bertanya balik kepada saya. Gaji guru-guru itu berapa sih? SPP yang saya bayarkan tentunya tidak cukup untuk membayar gaji guru dengan tinggi. Dengan gaji guru yang tidak seberapa itu apa pantas saya menuntut terlalu tinggi?. Kalau saya menuntut setinggi itu, kenapa tidak memasukkan anak saya ke sekolah internasional? yang kemungkinan besar 90% gurunya siap dengan perubahan cara mengajar ini


Mungkin disinilah seharusnya letak peran utama pemerintah kita dalam memajukan pendidikan. Karena saya bekerja di dunia pendidikan, saya sering sekali mengunjungi dan melihat sistem pendidikan di luar negri. Bahkan saya pernah hampir 6 tahun tinggal di luar. Sistem mereka bagus, pengajaran mereka bagus, kurikulumnya terencana dengan baik dan guru-gurunya pun sangat berkualitas, sekolahnya? banyak dari negara maju menggratiskan pendidikan dasar mereka


Rasanya wajar, karena dengan menjadi guru dasar di negara maju, mereka bisa hidup dengan layak, damai dan tentram. Negara mampu membayar mereka dengan tinggi, negara mampu memberikan fasilitas untuk pengajaran.


Sementara di Indonesia, berapa banyak guru yang masih struggle memikirkan bayar kontrakan bulan depan bagaimana, atau mungkin bagi guru-guru honorer, besok mau makan apa. Bagi mereka, mencari sinyal internet yang stabil, atau perangkat elektronik yang bagus itu suatu kemewahan tersendiri yang tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka terima


Saya beberapa hari lalu berbincang-bincang dengan seorang teman. Kendala 'schooling at home' ini bukan hanya di rasakan oleh sekolah anak saya, hampir semua sekolah. Baik swasta maupun negri. Ada yang mampu beradaptasi dengan baik, namun yang kurang bisa beradaptasi? banyak. Bahkan ada seorang kawan yang tetap harus membayarkan SPP bulanan full 100% tapi sama sekali tidak menyelenggarakan proses pendidikan. Masalah ini bukan hanya di rasakan oleh saya, atau sekolah anak saya. Hampir seluruh Indonesia bahkan mungkin dunia merasakan drama sekolah di rumah ini


Ayah saya lantas bilang, daripada saya sibuk memusingkan masalah pendidikan di sekolah yang jauh dari expektasi saya, protes sana protes sini yang belum tentu ada perubahannya, kenapa saya tidak memanfaatkan yang ada di rumah sekarang. Baik saya maupun suami sama-sama orang pendidikan, kami sama-sama memiliki kemampuan mengajar, kami sama-sama memiliki pengetahuan yang memadai. Mungkin kami sama-sama tidak berpengalaman mengajar anak 6 tahun, tapi justru kelebihan kami adalah kami paling memahami tentang anak kami bukan?



homeschooling room

Pada akhirnya saya merubah satu ruangan di rumah kami, menjadi ruangan homeschool. Konon bagi para sesepuh di dunia per-homeschoolingan, kalau kita masih mengikuti kurikulum yang diberikan oleh sekolah, itu namanya 'schooling at home'; tapi kalau kita mengajar dengan lebih fleksibel tanpa mengikuti kurikulum sekolah, itu namanya 'homeschooling'.


Karena saya harus menyisipkan waktu di sela-sela bekerja, saya akan mengatakan saya menggunakan metode homeschooling. Kurikulumnya mbuh, anak saya baru kelas 1 SD. Yang penting dia bisa membaca, menulis dan berhitung dengan baik tanpa harus antipati terhadap sekolah dari dini bukan? Dan yang paling utama adalah interaksi dengan orang lain, ini yang kemarin saya banyak keluhkan ke sekolah. Interaksinya dimana kalau hanya dengan tugas2?


Pojok literasi

Yang menjadi perhatian utama saya di ruangan ini adalah pojok literasi, dimana di sini saya akan membacakan satu buku kepada anak saya, menceritakan kembali dengan khas kelebaian ala seorang ibu dengan mencoret-coret di dinding, dan meminta anak saya untuk menceritakannya kembali dan menuliskan sesuai kemampuan dia.


Dekorasinya pun sederhana, hanya menambahkan stiker dunia dan stiker whiteboard, sementara dinding kapurnya memang sudah sejak awal ada disana (saya menggunakan ruang studio Rana untuk ruang homeschooling)


Tujuan saya agar selain anak saya mencintai buku, dia dapat memahami isi dari buku yang dia baca, siapa tokoh utamanya, apa permasalahan ceritanya dan bagaimana penyelesaiannya. Dari setiap cerita pasti ada saja setidaknya satu hikmah yang bisa kita ambil. Sedikit demi sedikit anak saya juga di ajak belajar untuk membaca dan menulis



Kemudian area lain yang saya tambahkan adalah pojok supermarket. Area kecil ini digunakan untuk belajar berhitung sambil bermain. Pada dasarnya matematika itu menyebalkan tapi tidak sulit. Di pojokan kecil ini saya ubah menjadi supermaket, dan anak saya akan diminta untuk membelanjakan uang yang ada. Dari mulai hal sederhana seperti bagaimana menghabiskan uang 10 rupiah sampai berapa banyak uang yang tersisa jika saya belanja barang ini?


Setiap item barang yang tertempel ada harga di sampingnya sehingga Rana bisa melihat jelas harga barang yang tertera. Disini kami juga bisa bermain roleplay dengan menggunakan mainan sungguhan seperti uang kertas, ikan mainan, roti mainan, dan lain sebagainya


Kemudian hal lain yang menjadi tambahan (bukan kewajiban) adalah pojok music, kalau Rana sedang ingin bermain Piano, saya akan mengajarinya, kalau tidak ingin, cukup nyalakan musik dan bernyanyi-nyanyi sambil menari. Selain itu dua hari dalam seminggu Rana dan baba pasti pergi berenang di kolam perumahan yang sepi untuk berlatih berenang


Untuk hal-hal yang saya rasa saya belum sanggup mengajarkan seperti Al-Qur'an, saya tetap meminta bantuan guru tahfidz untuk video call dengan Rana setidaknya satu minggu sekali untuk memperbaiki bacaan Qur'annya


Jadi kembali ke pertanyaan di judul, haruskah homeschooling saat pandemi ini ketika kita merasa schooling at home itu kurang efektif? Bagi saya, untuk anak seumur Rana, 6 tahun, hal yang paling penting adalah interaksi sosial, dengan ibu, dengan ayah, dengan teman sebaya. Hal-hal sederhana seperti mengajari membantu mencuci piring, membantu merapihkan tempat tidur, berkata sopan bisa diterapkan untuk menggantikan tugas-tugas berhitung atau membaca, yang mungkin masih terlalu berat bagi mereka, dan tentu saja memberatkan para ibu di rumah


Memasukkan unsur-unsur pendidikan seperti belajar membaca atau menulis bisa di terapkan sambil bermain, atau sambil bercengkrama atau bahkan sambil menonton. Pandemi ini sudah cukup banyak menguras kesabaran dan kesehatan mental orang tua, tidak perlu di tambahkan dengan tugas-tugas worksheet yang menumpuk bukan?


#homeschool #schoolingathome #pendidikananak #belajardirumah