• Imi Surapranata

Glamping Ciwidey, Nuansa camping yang glamour setelah karantina

Covid-19 yang menyerang hampir seluruh bagian dunia benar-benar menguras sisi emosi dan jiwa raga. Dalam skala besar, perekonomian negara babak belur, dalam skala kecil, kejiwaan seorang ibu yang diuji.


Ketika Indonesia, bahkan dunia, diminta untuk 'stay at home' dan menjaga 'physical distancing', saya baru menyadari kalau hidup di tengah hiruk pikuk kota besar itu kurang menarik. Kalau dulu rumah itu hanya hidup di pagi dan malam hari sehingga tidak pernah merisaukan ukuran rumah, sekarang 24 jam kali 3 bulan di rumah rasanya luar biasa bosannya. Lihatnya dinding itu-itu lagi, furniture itu-itu lagi, dengarnya suara tetangga itu-itu lagi


Teman-teman saya yang cukup beruntung tinggal di daerah yang sepi masih bisa menikmati gunung, pantai, kabut pagi hari, gemericik air terjun, suara burung di pagi hari saat melakukan 'work from home'


Sehingga tekat saya, begitu wabah ini berakhir saya gak mau ke mall, gak mau ke tempat wisata yang ramai, gak mau ngelihat gedung tinggi. Saya mau kembali ke alam


Ketika PSBB di angkat dan berganti menjadi era new normal, masalah baru muncul. Tempat wisata tiba-tiba membludak seakan-akan wabah sudah selesai. Mau keluar saya belum berani karena COVID masih mengintai, tapi tetap di rumah juga sudah kebosanan. Kemudian salah satu teman saya merekomendasikan tempat camping yang jauh dari keramaian, dekat dengan alam, dan bisa di capai dengan kendaraan darat dari kota Depok



Kamar kami di glamping

Glamping, Glamour Camping, di daerah Ciwidey Jawa Barat


Beruntungnya ketika saya menghubungi bagian pemasarannya 5 hari sebelum saya berangkat, pas baru saja ada yang mengcancel kamar. Saya mendapatkan kamar sisa, tapi menurut saya tidak masalah. Yang saya kejar adalah alamnya.


Jalan ke Ciwidey membutuhkan sekitar 2 jam perjalanan dari Lembang (Kebetulan orang tua punya rumah di Lembang, jadi saya bisa bermalam dulu). Kalau dari Jakarta mungkin harus berangkat subuh supaya bisa check-in di siang hari. Jalanannnya agak sulit di lalui kendaraan, jadi upayakan membaya kendaraan yang kuat di ajak offroad


Suasana dalam kamar glamping

Saya tiba di Glamping pukul 11, namun kemah saya sudah siap dan bisa langsung dimasuki. Kemahnya cukup luas dan memberikan suasana camping yang modern. Kamar mandingnya semi alam, dan di bagian belakangnya terdapat hammock dengan pemandangan pohon-pohon hijau dan gemericik air buatan di bawahnya.


Yang menarik, kita bisa melakukan traking naik gunung atau menuruni sawah. Tapi karena masih waspada dengan COVID, aktivitas traking bersama dengan dipandu instruktur ditiadakan. Namun kami tetap melakukan traking mandiri, toh areanya dekat dengan rumah penduduk dan tidak berbahaya.


Menaiki gunung

Di malam hari seharusnya ada api unggun, tapi di tiadakan juga untuk mencegah kerumunan. Tapi karena suasananya sepi sekali, kami masih bisa menikmati malam hari dengan suara kodok, gemericik air, dan angin di tengah udara yang sejuk.


Makan pagi di sediakan, tapi makan malam harus cari sendiri atau bisa memesan mie rebus dari penginapan. Lokasinya cukup jauh dari jalan besar, jadi sedialah snack dan peralatan berobat lainnya supaya tidak perlu naik turun gunung


Hanya semalam menikmati alam bisa mengembalikan semangat kami kembali setelah 3 bulan terkurung dalam dinding rumah


Sawah