• Imi Surapranata

Curug Cibeureum Sukabumi : Si air merah yang sulit untuk di jangkau



Dalam kunjungan kami ke Sukabumi kali ini, kunjungan ke Curug Cibeureum ini bisa dibilang sangat dadakan dan tanpa persiapan sama sekali. Saya dan suami sedang berleha-leha menikmati udara pagi sukabumi yang sejuk sambil melepas lelah dari Pelabuhan Ratu semalam. Iseng saya membuka blog dan membaca keberadaan Pondok Halimun yang hanya berjarak 30 menit dari rumah kami. Karena hari masih pagi, meluncurlah kami kesana untuk menghindari menumpuknya wisatawan di hari Sabtu.


Sesampainya di Pondok Halimun, atau biasa di sebut PH oleh warga Sukabumi, ternyata udaranya sangat dingin sekali. Saya dan suami hanya menggunakan pakaian berbahan tipis, beruntung Rana menggunakan baju cukup tebal. Tiket masuk ke PH adalah sebesar 25ribu rupiah untuk satu kendaraan roda-4 berisi 3 orang. Hari masih pagi sehingga hanya tampak 2-3 mobil.


Kami melewati hamparan kebun teh yang luas dan menawan. Ada beberapa orang yang kami lihat sedang berjalan kaki sambil berfoto ria di sekitar perkebunan teh. Kami harus menyusuri jalanan yang sempit untuk tiba di parkiran PH. Begitu turun dari mobil, kami langsung disuguhi penampakan sungai deras dengan bebatuan yang sangat besar dan udara yang dingin menusuk. Baru sedikit kedai yang sudah buka di pagi itu. Karena belum banyak orang, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu.


Segelas wedang jahe merah, teh manis panas, roti bakar, pisang bakar, telur rebus dan mie goreng menemain kami pagi itu di kedai sederhana yang berjajar di PH. Totalnya hanya 50 ribu rupiah, tentu saja tidak mahal jika dibandingkan dengan biaya makan di Jakarta. Selesai makan kami bermain sebentar di sungai dan melihat panah menuju Curug Cibeureum. Tanpa pikir panjang, kami berjalan menuju air terjun tersebut.


Harga masuk ke curug adalah sebesar 8.500 per-orang dewasa, anak-anak tidak dipungut biaya. Kata bapak penjaganya, butuh waktu sekitar satu jam ke Curug dengan ketinggian 1400mdpl dengan jarak tempuh 2,5 km. Kami pikir perjalanan akan sangat mudah dan mulus.


Ternyata tidak.

Banyak pohon tumbang dibiarkan alami

Jalanannya licin, berbatu dan menanjak melewati hutan yang lebat namun masih asri. Sebenarnya kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah sepanjang perjalanan. Hutan yang alami, suara percikan aliran air sungai, udara yang segar, kicauan burung-burung. Tentu saja perjalanan ini akan sangat menarik sekali karena seperti menyatu dengan alam, hanya saja kami berjalan bersama seorang gadis kecil berusia 7 tahun. Medannya sangat berat untuk anak-anak.


Belum di tambah hutannya sangat rimba, banyak halangan pohon-pohon tumbang yang dibiarkan alami, tidak ada satu orang pun sepanjang perjalanan, dan sinyal HP-pun sama sekali tidak ada. Otomatis hanya kami bertiga, dan suara-suara alam yang aneh, belum pernah kami dengar namun indah dari hutan. Perjalanan dengan anak kecil tentu tidak mudah, perjalanan menjadi lebih lama dan banyak beristirahat.


1.5 jam kemudian kami bertemu pondok dengan seorang kakek tua yang menjaganya, si abah panggilannya. Si abah sudah tua dan pendengarannya pun sudah sedikit terganggu. Abah menjual berbagai macam gorengan, air, es markisa dan beberapa snack kecil. Kami memutuskan untuk beristirahat sebentar sambil mengobrol dengan abah. Ternyata ada jalan lain menuju Curug CIbeureum yang biasa di lalui orang lokal, jalannya lebih landai dan lebih ramah terhadap anak. Abah juga menginformasikan kalau perjalanan kami masih jauh, kami baru sampai setengah perjalanan.


Jalanan 45 drajat menuju curug

Menolak untuk menyerah, kami melanjutkan perjalanan ke Curug Cibeureum. Ternyata jalannya semakin menanjak dan semakin terjal. Suara sungai pun tidak lagi terdengar, awalnya kami menjadi ragu apa jalan kami benar? Bayangkan, hanya kami bertiga, di hutan belantara tanpa sinyal, dengan suara-suara binatang yang baru pertama kali kami dengar. Anak saya mulai kelelahan, tapi rasanya sayang sekali kalau harus berbalik pulang.


Beruntungnya, kami bertemu dengan sekelompok anak muda penduduk sekitar yang ingin menuju Curug. Anak muda itu pun mengatakan perjalanan masih jauh, mau balik tapi Rana kekeuh ingin melihat curugnya. Semakin jauh ternyata perjalanan juga semakin berat dan semakin terjal. Saran saya, lebih baik tidak membawa anak-anak ke Curug ini karena jalanannya sangat menanjak dan cukup berbahaya.



Tapi akhirnya setelah berjalan 3 jam, perjalanan lelah kami terbayarkan begitu melihat air terjun lebat dengan pemandangan alam yang sangat memukau dan terjaga keasriannya. Air terjun ini merupakan air terjun tertinggi di Kawasan wisata gunung pangrango. Tingginya sekitar 60 meter. Menurut abah, air terjun ini merupakan tempat legenda Jaka Tarub terjadi. Tapi setelah saya cek di google, legenda Jaka Tarub itu terjadi di wilayah Jawa Timur, bukan Jawa Barat. Wallahualam


Curug Cibeureum

Air terjun ini jatuh ke kolam dangkal yang terlihat dasarnya, konon jika datang pagi hari, pantulan air ini akan terlihat berwarna merah sehingga disebut Curug Cibeureum (ci = air, beureum = merah), hal ini disebabkan karena air terjun ini merupakan habitat asli dari ganggang merah dan kodok merah. Karena kolam pada curug cibeureum ini dangkal, sebenarnya bisa-bisa saja kita berenang di air terjun ini. Namun sayang airnya sangat dingin menusuk tulang, berendam kaki saja terasa ngilu.


Singkat cerita, puas bermain kami berjalan turun melewati jalanan yang diberitahu si abah, jalannya memang lebih landai, tapi ternyata memutar sangat jauh. Pemandangannya tidak kalah indahnya, pegunungan dan hamparah sawah-sawah sayuran, jagung, daun bawang, dan perkebunan teh. Tentu saja kami akan sangat menikmati perjalanan jika kami tidak terlalu letih, tapi karena tenaga kami sudah habis terkuras, kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan melihat pemandangan sambil melepas Lelah.


Sesungguhnya Curug Cibeureum ini sangat saya sarankan untuk di datangi jika tidak membawa anak. Namun jika membawa anak, saya sarankan cukup di area sungai dan kolam renang alami yang di sediakan di bawah. Namun memang sayangnya saat kami turun (7 jam kemudian, karena perjalanan kami menghabiskan 6 jam PP), area PH sudah sangat ramai sekali. Banyak pengunjung tidak mengindahkan protokol kesehatan seperti tidak memakan masker dan berkumpul bersama. Kalau ingin mendatangi tempat ini bersama anak, tunggulah sampai saat musim Corona nanti berakhir.




Kalau anda menyukai perjalanan menyusuri hutan, saya sangat merekomendasikan tempat ini. Sebaiknya datang di pagi hari saat tidak ada orang sama sekali. Sayangnya memang banyak pengunjung yang tidak peduli dengan alam dengan membuang sampah sembarangan dan melakukan vandalisme di beberapa fasilitas yang disediakan pemerintah. Tetap patuhi protocol Kesehatan dan lindungi kelestarian alam.