• Imi Surapranata

CIMAJA SQUARE, restoran review : Dapoer Koening, Pizza night party with real pizza

Menyambung tulisan saya sebelumnya tentang Cimaja Square, saya merasa perlu membuat ulasan sendiri tentang restorannya. Rasanya tidak adil kalau harus dijadikan hanya sebagai tulisan tambahan tentang makanan yang di sediakan, karena memang ya seenak itu.


Saya tiba di Cimaja Square pukul 1 siang, setelah menempuh perjalanan yang tidak mudah dari Depok karena di bawa ke perkebunan sawit dengan area yang cukup berat oleh google map, tentu saja kami tiba dalam keadaan letih, lapar dan mual. Rasanya malas untuk mencari tempat makan lain, kami langsung memesan makanan bahkan sebelum check-in.


Untuk restorannya sendiri namanya dapoer koening, terletak di area depan di dekat kantor resepsionis. Ada area luar yang terdiri dari kursi-kursi bambu yang tersusun melingkar dengan tungku tradisional di kedua sisi. Sementara area dalam lebih seperti bar-bar dalam film barat era 80-90an, dengan kursi style kuno, taplak meja kotak-kotak, meja billiard baik untuk dewasa maupun anak, meja ping-pong, bahkan berbagai macam buku tua dan permainan-permainan papan tradisional seperti monopoli, scribble, catur dan lain sebagainya.


Meja bar terletak di belakang, dengan kursi bar bambu yang tinggi dan terletak tepat di sebelah area bermain.



ruang bermain

Saat memesan makanan awalnya saya cukup terkejut karena harganya cukup mahal untuk daerah, kisaran 75-90 ribu rupiah untuk satu porsi makanan. Menunya pun yang disediakan adalah menu-menu barat, dari yang berat seperti steak, spageti, hingga sandwich dan pancake. Karena awalnya saya belum mengetahui kalau pemiliknya adalah seorang bule, saya agak skeptis dengan rasa makanannya. Saya menduga makanannya hanya sekedar menu yang dibuat kebarat-baratan dengan rasa yang pas-pasan.







Area bar


Saya memesan sepiring Caesar salad, black paper steak dan seafood platter untuk makanannya. Sementara untuk minumannya saya memesan minuman soda untuk menghilangkan rasa mual di perjalanan, jus lemon dan jus jeruk.


Begitu makanannya datang saya terkejut karena porsinya cukup besar, dan rasanya pun, WOW.





Sayuran pada saladnya segar-segar dan tidak terasa pahit. Salada, wortel, tomat, paprika, dan potongan roti kering di campur menjadi satu. bumbu Caesar yang digunakan pun bukan bumbu pasaran yang sering banyak digunakan di kebanyakan rumah makan dengan rasa yang pasaran. Entah menggunakan resep sendiri, atau menggunakan bumbu salad yang jarang ada di pasaran.


Steaknya disajikan di atas hot plate, di siram dengan saus jamur dengan beberapa potong kentang goreng dan sayuran bakar. Dagingnya lembut, mudah di potong dan tidak mengandung lemak sama sekali. Dagingnya hanya di bumbui dengan garam dan lada namun meresap kedalam, kemudian di siram dengan saus krim jamur yang terasa pas tanpa terlalu banyak komposisi krimnya sehingga tidak membuat mual.


Seafood platter juga demikian, udang, ikan dan cumi-cumi di bakar dengan bumbu asam manis yang menyegarkan. Di sajikan dengan potongan kentang goreng dan sedikit salad di sisinya. Ikannya pun tidak terasa amis atau alot.


Untuk keseluruhan makan siang, kami menghabiskan sekitar 250 ribu rupiah, harga yang tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan makanan serupa dengan rasa yang luar biasa di kota Jakarta.


Ketika kami ingin ke pantai sore harinya, penjaga resepsionis mengatakan kalau nanti malam akan diadakan pizza party. Jadi setiap sabtu malam, restoran di Cimaja Square ini memiliki menu khusus yaitu pizza yang dibakar sendiri menggunakan tungku api tradisional


Tentu saja karena puas dengan makan siang tadi, kami berencana untuk mencicipi pizza tradisional di restoran tersebut. Apalagi setelah mengetahui kalau pemiliknya adalah orang Belanda dan tamu penginapan mayoritas adalah orang asing, pasti kualitas makanannya pun tidak di ragukan lagi



Malamnya sudah tampak beberapa orang yang duduk-duduk menunggu pizza. Karena area restoran yang cukup luas, masih banyak ruang kosong bagi kami untuk tetap menjaga protokol kesehatan. Berada di dapoer koening ini seperti berada di restoran di Bali. Karena selain kami, pegunjung lainnya adalah orang asing, sama sekali tidak nampak penduduk lokal.


Oma pemilik pun tampak ramah berkeliling, menurut oma, menu favorit adalah romana pizza, pizza crispy dengan toping daging, buah zaitun dan keju mozzarella, serta seafood pizza, pizza dengan toping aneka hidangan laut. Harga yang di berondol sekitar 80-90 ribu rupiah per loyang pizza. Karena pizza yang disajikan ternyata cukup besar, kami pun memutuskan hanya memesan satu loyang pizza, romana pizza.


Sang koki pun meracik pizza di depan kami, menyuguhkan pemandangan teknik memasak pizza yang hebat menggunakan tungku tradisional. Sayangnya pembuatan adonan roti pizzanya di lakukan di dalam, sesekali koki yang membuat adonan roti akan keluar membawakan roti yang sudah di olah lalu di racik dengan berbagai macam topping dan di bakar oleh koki di luar. Mungkin kalau pembuatan roti pizza dilakukan di luar akan menambah nilai atraksi sendiri


Tidak sampai 10 menit, pizza kami-pun siap di hidangkan. Adonan rotinya tipis dan crispy, seperti kebanyakan pizza yang di jual di mancanegara. Topingnya berisi daging, saus tomat, buah zaitun dan keju mozzarella yang tebal. Rasanya walaupun rotinya tipis ternyata sangat mengenyangkan. Satu loyang pizza ternyata cukup untuk kami bertiga.



Tadinya kami ingin memesan menu lain tapi mengingat perut kami sudah penuh, kami memutuskan untuk hanya memakan satu loyang pizza saja dan kembali ke hotel untuk beristirahat.


Rasa pizzanya tidak kalah jauh dengan restoran pizza terkenal di Jakarta yang khas dengan sajian pizza tipisnya namun harganya hanya setengahnya. Menurut Rana, ini adalah pizza terenak yang pernah dia makan. Kalaupun memang tidak menginap di Cimaja Square, tidak ada salahnya mencicipi pizza di restoran ini saat malam minggu ketika berada di sekitar Pelabuhan Ratu.


Namun tetap, jangan lupa protokol kesehatan tetap dilakukan.