• Imi Surapranata

CIMAJA SQUARE, hotel review : Penginapan di tengah sawah dan menghadap pantai

Di liburan kali ini, kami memang berencana untuk bermalam di daerah Pelabuhan ratu. Setelah kunjungan singkat kami ke pantai beberapa minggu lalu kurang memuaskan buat Rana karena terlalu sebentar, kami berjanji untuk membawa Rana menginap di Pelabuhan Ratu dan menikmati pantai lebih lama.


Awalnya saya meminta suami untuk mencari penginapan dengan harga yang terjangkau, kisaran 300ribu rupiah namun dekat dengan pantai. Karena membandingkan dengan rate hotel yang biasa kami tempati di Jakarta, saya memang tidak mengharapkan hotel yang bagus. Mungkin hotel-hotel red doorz atau oyo sudah cukup, yang penting ada tempat untuk kami tidur dan bermalam.


Sampai akhirnya suami menawarkan untuk menginap di Cimaja Square, di daerah Cimaja, Pelabuhan Ratu. Konon katanya dekat dengan sawah dan pantai. Rate harganya hanya 250ribu rupiah untuk kamar tanpa dapur, sampai 350 ribu rupiah untuk satu kamar dengan dapur untuk semalam. Awalnya saya tidak menaruh harapan banyak karena harganya tidak masuk akal kalau memang dekat dengan sawah dan pantai, terlalu murah.


Kamar kami di CImaja Square

Ternyata dugaan saya salah, kamar yang diberikan kepada kami adalah kamar tidur dua lantai yang dibangun secara tradisional dengan bata ekspos dan atap jerami dan dikelilingi oleh sawah dengan suara gemericik air parit yang mengalir langsung ke pantai.


Kantor utama untuk resepsionis memang terletak di pinggir jalan besar, namun kami perlu berjalan kaki beberapa menit melewati perkampungan dengan jalanan yang sempit, sawah di kiri dan kanan, dan parit yang airnya jernih untuk mencapai kamar kami.







Lantai bawah dengan kerai bambu yang di tutup

Kamar terdiri dari dua lantai, lantai satu adalah dapur, kamar mandi, dan ruang bersantai yang menghadap langsung ke sawah dan pantai. Pintu depan di buat unik seperti pintu-pintu di rumah Eropa, dengan daun pintu yang dibagi dua. Namun pintu belakang hanya berupa kerai bamboo yang berat dan menghadap sawah. Ada parit lebar yang membatasi kamar kami dan sawah, paritnya sangat jernih dengan beberapa ikan yang bisa terlihat jelas. Bau laut tercium samar-samar di tengah pemandangan sawah yang hijau dan asri.






Lantai bawah ketika kerai bambu dibuka

Kamar atas terdiri dari kamar atap dengan atap anyaman bambu, lantai kayu dan jendela tanpa kaca. Satu tempat tidur ukuran king di letakkan di tengah menghadap jendela yang di lapisi kawat dan menghadap sawah. Perabotan di dalam rumah pun terbuat dari furniture bambu yang sederhana namun terasa homey.



Lantai atas, kamar atap yang menghadap sawah


Penginapan ini dikeliling oleh sawah yang luas, konon pemiliknya adalah seorang wanita Belanda. Selama kami menginap disana memang kerap ada oma-oma bule yang sangat ramah pada kami dan selalu menegur dan menanyakan kenyamanan kami disini. Si pemilik memiliki tanah yang besar, termasuk area persawahan luas yang mengelilingi penginapan ini. Area sawah di kelola oleh penduduk sekitar untuk menjaga lingkungan penginapan tetap asri.



pantai bati Cimaja

Dari penginapan, kami bisa berjalan sekitar 5 menit untuk menuju pantai Cimaja. Namun sayangnya pantai Cimaja sendiri adalah pantai batu yang memang kerap menjadi tempat kunjungan bagi peselancar profesional. Memang saat kami mem-booking kamar, kamar yang kami tempati adalah kamar terakhir, dan tamu yang kami lihat kebanyakan adalah warga negara asing. Penjaga penginapan mengatakan kalau tamu-tamu kebanyakan adalah expatriat yang tinggal di Jakarta dan memang khusus datang untuk berselancar. Kalau memang seorang peselancar profesional, mungkin tidak masalah untuk mengunjungi pantai Cimaja. Pantainya sepi dan bersih dengan batu-batu besar yang cantik dan buih ombak yang putih.



Tapi kalau membawa anak kecil, rasanya pantai Cimaja bukan pilihan yang cocok. Tapi jangan khawatir, karena dari tempat penginapan kami, kami cukup berjalan sekitar 2km untuk mendapatkan pantai pasir yang sepi. Pantainya lebih bersih dari pantai yang kami kunjungi beberapa saat lalu, namun tetap saja sampah-sampah yang dibawa oleh laut menumpuk di bibir pantai. Namanya pantai sunset, biaya masuknya gratis, areanya sepi, namun tetap harus berhati-hati karena ombaknya memang cukup besar.


Pantai pasir sunset


Kembali lagi ke tempat penginapan kami, Cimaja Square tidak menyediakan fasilitas AC di kamar dan water heater di kamar mandi. Namun malam hari di Cimaja tidak terlalu panas, apalagi jendela yang hanya di lapisi oleh kawat nyamuk tanpa kaca membuat angin laut yang sejuk masuk ke kamar kami. Angin pantai-nya pun tidak terlalu kencang, bau laut dan bau sawah ditambah suara berbagai macam serangga membuat suasana sangat nyaman. Air-nya pun hangat karena dekat dengan pantai, sehingga tanpa water heater-pun kami bisa mandi dengan tenang tanpa perlu khawatir air yang terlalu dingin menggigit.


Karena letaknya yang dekat dengan sawah dan laut, kami dapat melakukan kedua aktivitas alam tanpa harus berpindah lokasi terlalu jauh. Kami bisa menikmati matahari terbenam sambil bermain di pantai yang indah di sore hari, namun melakukan lari pagi sambil berkeliling sawah dan menghirup udara pagi yang segar keesokan harinya.

Berjalan pagi mengelilingi sawah

Saya sangat merekomendasikan penginapan ini ketika ingin bersantai bersama keluarga dengan suasana alam tanpa harus mengeluarkan uang yang terlalu banyak. Karena letaknya di Pelabuhan Ratu, tentu saja Cimaja Square dekat dengan berbagai macam wisata seperti Geopark, pantai, curug, bahkan perkampungan adat. Untuk makanan sendiri karena lokasi utamanya terletak di pinggir jalan besar tentu saja akan sangat mudah untuk di cari. Selain itu Cimaja Square menyediakan dapur yang bisa digunakan jika memang ingin masak-masak. Letaknya tidak jauh dari pasar ikan Pelabuhan Ratu, sehingga berbelanja ikan segar dan mengelolanya sendiri tentu saja sangat menarik untuk dilakukan. Namun jika memang hanya ingin berlibur tanpa dibebani urusan rumah tangga, Cimaja square juga memiliki restoran sendiri dengan makanan yang lezat dan wifi yang kencang. Saya akan menuliskan ulasan tentang restorannya di tulisan lain.


Kamar-kamar di Cimaja Square, unik dan berjauhan

Oh ya, karena Cimaja Square hanya menyediakan sedikit kamar di situs hotel seperti booking.com, alangkah baiknya jika menelpon langsung ke resepsionisnya untuk menanyakan kesediaan kamar. Sebaiknya memesan dari jauh-jauh hari karena memang selalu penuh oleh ekspatriat yang menginap.


Karena letaknya di perkampungan, sayangnya memang petugas tidak menggunakan masker karena menganggap COVID tidak ada di Cimaja, alangkah baiknya jika kita tetap melaksanakan protokol kesehatan selama berlibur.


Cimaja Square

Jalan Raya Cisolok KM.5 Cimaja-Palabuhan Ratu

Telpon 0266-6440800

0 komentar