• Imi Surapranata

Benarkah milenial tidak akan sanggup untuk membeli rumah?

Diperbarui: Feb 21

Suami saya pernah membaca dari sebuah artikel koran kalau nanti di tahun 2025, kemungkinan milenial tidak akan sanggup lagi membeli rumah. Wajar, harga rumah di Indonesia, terutama Jakarta dan sekitarnya, terbilang sagat tinggi, jauh di atas kemampuan rata-rata kaum milenial. UMR kota Jakarta tahun 2020 sekitar 4.2 juta rupiah, Badan Pusat Statistik sendiri menyebutkan kisaran gaji fresh graduate di Jakarta adalah sekitar 5,5-6 juta rupiah perbulan. Anggaplah kaum milenial Jakarta dengan gaji 6 juta rupiah ingin membeli sebuah rumah mungil untuk keluarganya secara cicilan, artinya cicilan yang bisa di ambil maksimal hanya 1,8 juta rupiah per bulan bukan? Jika mengambil DP20% dengan cicilan 1.8 juta rupiah per-bulan selama 20 tahun, harga rumah maksimal yang bisa di beli kaum milenial hanya sekitar 500-600 juta rupiah.


Tapi pernah gak berkeliling kota Jakarta untuk melihat-lihat harga rumah? Harga rumah dalam cluster di tengah kota Jakarta untuk ukuran tanah 60m2 di jual minimal 5M rupiah. Untuk pinggiran kota Jakarta, mungkin harganya masih sedikit masuk akal, sekitar 800 juta rupiah sampai 1M-an. Hal yang hampir mustahil kalau milenial hanya memiliki gaji rata-rata 6 juta rupiah.


Itu untuk rumah mungil sederhana dengan 2 kamar tidur, kalau kita bermimpi punya rumah yang sedikit besar untuk kelak berkeluarga dengan 2-3 orang anak, rasanya agak mustahil hanya dengan gaji 6 juta rupiah bukan?. Mungkin masih ada satu atau dua rumah dengan harga yang masih masuk di akal, tapi dengan kompensasi mungkin lokasi yang agak sulit di jangkau atau waktu tempuh yang lama untuk pulang pergi ke kantor.


Saya dan suami cukup beruntung karena kami di berikan rumah dari orang tua untuk kami tinggali sehari-hari. Tapi salah satu impian suami saya adalah membeli rumah dari hasil keringat sendiri. Tentu saja rasanya akan jauh berbeda, rumah sederhana hasil kerja keras sendiri dengan rumah mewah pemberian orang tua. Tapi salah satu syarat yang saya berikan ke suami adalah, kalau kami ada rezeki membeli rumah sendiri, hindari hutang dan KPR. Saya tidak akan membicarakan masalah riba disini karena saya bukan ahli agama, tapi sejak kecil saya di nasihati orang tua untuk menghindari hutang dalam bentuk apapun, dalam kondisi apapun. Mengambil KPR itu bagi saya bukan perkara mudah, seperti lari marathon bertahun-tahun yang tidak boleh give up di tengah jalan.


Bagi suami saya membeli rumah tanpa KPR itu mustahil. Untuk rumah sederhana seharga 600 juta saja membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun kalau bisa menysisihkan 6 juta dalam satu bulan. Tapi 10 tahun lagi, rumah yang sekarang seharga 600 juta tentu saja sudah melambung tinggi bukan?. Kalaupun mengumpulkannya di instrumen investasi, misalkan saham, kenaikan harga rumah sekarang-pun sudah melampaui keuntungan yang di dapatkan dari investasi. Pertanyaannya apakah mungkin?


Waktu itu saya optimis bilang ke suami, sangat mungkin. Asal kita ada kemauan, pasti ada jalan. Bisa dengan mencicil membeli tanah dulu, kemudian membangun pelan-pelan. Toh saat ini kebutuhan rumah bagi kami bukan sesuatu yang mendesak karena kami masih punya rumah yang bisa di tinggali. Yang penting uangnya terkumpul dulu sebelum membeli rumah


Singkat cerita, beberapa hari yang lalu saya dan suami mendapatkan informasi soal perumahan baru yang akan di bangun, letaknya cukup jauh, di daerah Tenjo, perbatasan Bogor dan Tangerang. Tapi harganya masih masuk di akal bagi kantong kami, karyawan biasa yang ingin membeli rumah dengan metode pembelian cash. Pergilah kami kesana saat libur akhir tahun kemarin.




Perumahan ini terletak di daerah Tenjo dan akan dibangun oleh grup Podomoro. Kalau dengan menggunakan mobil, butuh waktu 2-3 jam lebih dari kota Depok. Tapi letaknya hanya berjarak kurang dari 2km dari stasiun Tigaraksa yang masuk ke KRL line tanah abang-rangkas bitung. Bagi suami saya yang kantornya terletak di kebayoran tentu saja lokasi ini sangat ideal. Rumah pembelian sendiri, satu jalur ke arah kantor, dan harganya pun masih bisa kami beli secara cash (dari hasil menabung untuk membeli rumah).




Untuk unit dengan luas 27/60 mereka menjualnya seharga 170-180juta rupiah cash, untuk unit dengan luas 40/160 dijual dengan harga sekitar 400 jutaan cash keras. Konsep yang dibangun pun adalah rumah berkembang, tanah luas dengan rumah sederhana yang bisa di cicil pembangunannya. Motonya, “the next Serpong” sehingga konsepnya pun akan dibuat seperti BSD sekarang. Kalau masih ingat BSD zaman saya dulu sekolah, dan BSD sekarang, kami sudah bisa membayangkan akan seperti apa ke depannya area itu.




Jatuh hatilah suami saya dengan rumah ini, dia meminta satu hari untuk memikirkan baik-baik ke agent in house podomoronya. Saat jalan pulang, kami melihat satu spanduk rumah subsidi tepat 600meter dari stasiun tigaraksa. Karena satu jalan pulang, kami turun melihat-lihat rumah contoh dan bertanya-tanya dengan agentnya. Harganya? 150 juta rupiah untuk rumah tipe 27/60. Harganya tidak beda jauh memang kalau dengan pembayaran cash, tapi kalau ingin mengambil cicilan 15 tahun, pembelian rumah subsidi ini cukup mengeluarkan uang 1.2juta rupiah perbulan dengan DP 10 juta rupiah. Bunga flat, dan cicilan hanya 1.2 juta rupiah biarpun di ambil selama 15 tahun tentu tidak terlalu memberatkan. Apalagi lokasinya lebih dekat ke stasiun.


Namun pada akhirnya setelah melalui banyak pertimbangan, saya dan suami memutuskan untuk membeli rumah non-subsidi yang dikelola oleh Agung Podomoro (silahkan baca : rumah subsidi dan non-subsidi untuk milenial). Bagi kami, ini adalah rumah pertama yang kami beli dengan uang sendiri secara cash.


Jadi, untuk kaum milenial yang ingin membeli rumah sendiri, saya rasa sebenarnya memungkinkan asal mimpi kita tidak terlalu tinggi. Rumah mewah, besar di tengah kota Jakarta. Cukup turunkan sedikit standar kita agar bisa membeli rumah sendiri. Mungkin ukuran yang mini, atau lokasi yang sedikit lebih jauh namun dekat dengan jalur kereta bisa menjadi pilihan. Dan jangan lupa untuk rajin-rajin mencari tahu informasi tentang perumahan yang baru dibuka.



0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua