• Imi Surapranata

Bagaimana rasanya tinggal di rumah Jepang yang kecil tapi modern?

Dulu sewaktu kami masih tinggal di Jepang, kami tinggal di apartemen sederhana yang disediakan oleh kampus. Apartemen kami adalah apartemen tua dan tradisional. Lantainya kayu dan mengeluarkan suara derit khas kalau kami berjalan. Karena apartemen tua, terkadang angin musim dingin menerobos masuk dari kisi-kisi jendela dan pintu yang longgar. Jadi kalau musim dingin, kami lebih suka lembur di kampus mencari penghangat gratis.


Apartemen lama kami di Tochigi

Tapi bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Jepang, kami termasuk beruntung. Apartemen kami luas dan memiliki dua kamar. Sewanya pun tidak mahal, sekitar 20.000 yen perbulan. Bandingkan dengan harga sewa apartemen studio di kota besar seperti Tokyo yang rata-rata di atas 60.000 yen perbulan.


Jepang adalah negara yang tidak luas padahal penduduknya banyak. Dari tanah yang tidak luas itu sebagian besar sangat dijaga kelestariannya, jadi hanya bagian kecil dari Jepang yang bisa di jadikan perumahan. Wajar saja kalau harga tanah menjadi sangat mahal.


Sebagian besar orang Jepang perkotaan memilih tinggi di tempat hunian vertikal yang lebih murah. Bagi mereka yang cukup beruntung bisa membangun rumah, tanahnya pun biasanya mungil dan kecil. Tidak heran kalau bangunan-bangunan di Jepang banyak yang ramping menjulang ke atas untuk memanfaatkan tanah secara optimal


Beberapa kesempatan terakhir, saya sempat mencicipi bagaimana rasanya tinggal di rumah modern Jepang. Walaupun dari luar terlihat kecil dan mungil, ternyata design rumah Jepang membuat dalamnya terasa luas dan modern.


Di postingan ini saya akan membahas bagaimana sih bagian dalam rumah modern orang Jepang dengan tanah yang terbatas? Hampir setiap rumah yang saya tempati memiliki design dan struktur yang tidak jauh berbeda sehingga rumah yang akan saya bahas kali ini adalah rumah terakhir yang saya tempati sekitar akhir Januari lalu, luas tanahnya hanya sekitar 40m2. Itu sudah termasuk hitungan area carport yang kebetulan di tempati oleh porsche pemilik rumah.


Rumah yg sy tempati. Rumahnya yang dibelakang mobil 3 lantai hanya terlihat pintu masuk

Jadi memiliki tanah kecil di Jepang, terutama di daerah Tokyo, itu sesuatu yang sangat wah loh... Rasa-rasanya saya jadi bisa belajar lebih bersyukur karena tanah saya di Indonesia masih lebih luas.


Seperti halnya rumah modern lain di dunia, akses masuk kedalam rumah sudah menggunakan kode password. Rumah-pun akan terkunci otomatis ketika kita keluar dan menutup pintu.


Setelah pintu, kita akan di hadapkan pada area kecil untuk meletakkan sepatu. Area ini merupakan area khas di perumahan Jepang, baik tradisional maupun modern. Disini kita harus melepas sepatu luar kita dan menggantinya dengan sandal untuk dalam rumah.


Dan biasanya di area ini diletakkan lemari sepatu dan penggantung coat atau payung.


lantai satu, tidak ada ruang tamu

Dari tempat tempat melepas sepatu ini kita akan di hadapkan pada hall sempit dengan tangga tinggi dan curam untuk ke lantai atas di satu sisi. Di sisi lainnya adalah bagian dari lantai bawah, yang biasanya terdiri dari kamar tidur (biasanya kamar utama), toilet dan kamar mandi.


Nah, yang menarik dari rata-rata rumah di Jepang adalah, mereka biasanya tidak memiliki ruang tamu.


Saya jadi ingat pertama kali saya datang ke Jepang dulu saya pernah berjalan dengan salah seorang kolega saya dan kebetulan mampir ke rumahnya. Di depan rumah sang kolega mempersilahkan saya untuk menunggu di luar rumahnya tanpa di izinkan masuk. Tentu saja saya heran dengan kelakuannya yang terkesan tidak sopan bagi adat Indonesia ini, ternyata usut punya usut memang mayoritas orang Jepang jarang menerima tamu ke rumah dan lebih memilih menjamu tamu di restoran atau bar.


Entah memang adat istiadat mereka atau karena rumah kecil mereka yang tidak menyediakan ruang tamu.


Saya pernah beberapa kali diundang ke rumah sensei saya yang kebetulan memiliki tanah yang luas dan cukup untuk menampung banyak tamu di rumahnya. Tapi biasanya kami pun akan duduk-duduk dan makan di dapur dan ruang keluarga, bukan ruang tamu khusus. Jadi sepertinya memang kebiasaan menyambut tamu seperti ini bukan hal yang lumrah bagi orang Jepang. Atau mungkin hanya untuk teman dekat dan keluarga.


Anyway, susunan ruangan di lantai satu ini memang tergantung dari si pemilik rumah, tapi biasanya terdiri dari kamar utama, serta kamar mandi dan toilet yang terpisah.


Toilet di Jepang adalah toilet kering, jadi kalau kamu berkesempatan untuk datang ke Jepang, hati-hati dengan segala cipratan air di toilet. Saya ingat dulu pernah diminta untuk mengelap toilet kampus karena kebetulan ada rombongan study tour dari Indonesia yang menggunakan toilet secara basah. Alhasil kami mahasiswa Indonesia yang tidak ada hubungan apa-apa yang harus kena getahnya membersihkan toilet.


Untuk menghemat air, biasanya wastafel untuk mencuci tangan di letakkan di atas dudukan toilet sehingga air bekas cuci tangan bisa di daur ulang menjadi air untuk membilas toilet.

(gambar)


Kamar mandi Jepang adalah area basah, biasanya berupa unit yang terpasang dalam satu kesatuan yang terdiri dari ofuro, shower dan area untuk membersihkan diri (kursi dingklik dan ember kecil). Di area luarnya adalah area kering untuk mengganti baju dan mencuci muka. Area kamar mandi terpisah dengan area toilet


kamar mandi modern Jepang

Toilet dan kamar mandi Jepang ini sangat modern, dengan berbagai macam tombol yang mengatur suhu air, suhu ruangan, udara ventilasi hingga mengeluarkan bunyi dan bau untuk menutupi hal-hal confidential yang kita lakukan di toilet. Tombol suara dan pengharum ini sangat berguna kalau panggilan alam memanggil kita di toilet umum, karena hampir semua toilet Jepang sudah memasang sistem ini.


Berbeda sekali dengan toilet saya dulu di apartemen lama saya, ingin buang air saat tengah malam musim dingin itu sama buruknya dengan sakit perut di dalam freezer, dingin sekali. Toilet modern pun sekarang dudukannya sudah ada yang terinstall pemanas, jadi tidak perlu lagi kedinginan saat ingin buang air di musim dingin.


Saya pernah bertanya ke toko bangunan di Jepang berapa sih biaya untuk menginstall toilet dan kamar mandi modern ini? Kira-kira kita butuh 100-200 juta hanya untuk satu set toilet dan kamar mandi modern paling sederhana. WOW.



Kamar utama

Kamar tidur umumnya hanya ruangan kosong yang bisa kita isi dengan furnitur kamar tidur dan jendela besar. Ruangannya pun tidak luas, mungkin hanya sekitar 3x3 meter tapi tidak terasa sempit. Saya memperhatikan rata-rata di rumah Jepang memiliki lemari yang terinstall langsung di dinding dan furniture yang simpel dan ramping sehingga tidak membuat ruangan terasa penuh



Untuk rumah modern, biasanya sudah menggunakan ranjang. Namun rata-rata orang Jepang terutama yang masih hidup di rumah tradisional lebih memilih menggeler futon saat tidur


Dari lantai satu kita harus naik ke lantai dua melalui tangga yang curam. Lantai dua ini adalah lantai utama dari kebanyakan rumah di Jepang. Terdiri dari dapur dan ruang makan di satu sisi, serta ruang keluarga di sisi yang lain. Lantai ini merupakan area berkumpul bersama keluarga.


ruang keluarga, di poto dari dapur

Dapur di rumah Jepang umumnya kecil. Tidak heran jika pergi ke toko bahan kue di Jepang, saya selalu menemui bahan-bahan esensial seperti tepung terigu dijual dalam paket kecil, per 50 atau 100 gram, tidak seperti di Indonesia yang dijual per-kg. Karena rumah yang kecil, memang rata-rata orang Jepang membuat kue untuk resep satu kali masak.



dapur

Namun walaupun mungil, biasanya dapur sudah dilengkapi dengan peralatan yang lengkap dan modern. Penataan lemari penyimpanan pun biasanya efisien sehingga bisa memuat banyak sekali barang

Dapur biasanya berbentuk kitchen bar agar ibu yang memasak bisa sambil mengawasi anak-anaknya di ruang keluarga


Lantai paling atas biasanya diisi oleh kamar tidur anak.


Selain itu, biasanya rumah di Jepang di lengkapi dengan lemari laundry, yaitu lemari yang menempel di tembok dan berisi mesin cuci dan pengering. Biasanya diletakkan di lantai satu atau lantai dua.


Mesin cuci di Jepang rata-rata sudah termasuk mesin pengering sehingga kita tidak perlu lagi menjemur baju. Namun jika masih menggunakan mesin yang tidak memiliki pengering, baju biasanya di jemur di kamar mandi. Pemanas ruangan pada kamar mandi biasanya cukup panas untuk mengeringkan baju, sekitar 6 jam dan baju akan kering seperti di jemur di luar.


Pengaturan suhu kamar mandi

Hal ini sangat berguna terutama saat musim dingin dimana matahari jarang sekali muncul . Dulu saya butuh sekitar 2-3 hari untuk mengeringkan baju dengan matahari, alhasil baju saya selain saat musim panas biasanya berbau apek.


Hebatnya lagi, rata-rata rumah Jepang terutama di perkotaan sudah menginstall sistem smart home. Smart Home adalah istilah yang umum digunakan pada perumahan yang seluruh peralatannya, pencahayaan, pemanas, TV, komputer, aplikasi hiburan, sistem keamanan dll mampu berkomunikasi satu dengan yang lain dan dapat di atur baik menggunakan waktu, dari ruangan apapun di dalam rumah, maupun dari bagian belahan dunia manapun lewat telepon atau internet.


Ternyata smart home ini merupakan industri yang sedang cukup maju di dunia loh, bahkan di Indonesia, mungkin sama seperti boomingnya industri smart phone. Di rumah ini, ada tiga iPad yang terpasang di rumah. Satu di dekat pintu, satu di ruang keluarga, dan satu di ruang makan.


iPad ini digunakan untuk mengontrol kondisi rumah, seperti kamera CCTV, lampu, pemanas, ventilasi dll. Kesemua hal itu ternyata juga menyambung ke handphone pemilik rumah, sehingga walaupun si pemilik tidak berada di rumah, dia bisa mengontrol apakah semua listrik sudah dimatikan ketika tidak ada orang di rumah atau belum?


Ini cocok sekali untuk orang seperti saya yang sering kepikiran di kantor apakah sudah mematikan kompor di rumah atau belum? Saya tidak perlu repot-repot pulang ke rumah, tinggal mengendalikannya dari handphone atau komputer saya.


Kesemua aplikasi ini ternyata tersambung ke benda bulat kecil yang juga merangkap jam ini.



Sejujurnya saya tidak paham apapun soal teknologi, mungkin benda ini bekerja seperti router pada internet wifi di rumah.


Yang menariknya lagi, kalau di Indonesia tinggi plafon rumah biasanya sampai 3 meter, di Jepang mereka tidak membuat setinggi itu, mungkin hanya 2.5 meter. Walaupun plafon rendah, namun rumah tidak terasa sumuk saat musim panas. Hampir semua rumah yang saya tinggali memiliki ventilasi kecil di dindingnya.


Saya tidak paham, mungkin ventilasi ini tersambung dengan sistem di pemerintahan.

Saat musim panas dua tahun lalu saya tinggal di Tokyo, tiba-tiba saya kedatangan seorang petugas dari, -saya tidak tahu namanya, sejenis badan instalasi perumahan?-, pemerintahan yang mengatakan bahwa alarm ventilasi di rumah yang saya tempati berbunyi karena belum mengganti kertas penyaringnya.


Wah, hebat sekali mereka bahkan bisa mengintegrasikan sampai ke hal yang terkesan sepele seperti itu ya?