• Imi Surapranata

Apakah Privilege mempengaruhi kesuksesan seseorang?



Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial tentang hubungan antara privilege dan tingkat kesuksesan seseorang.


"Jangan bandingkan kita dengan nadiem makariem, hotman paris saja pernah bekerja dengan ayahnya, jelas dia punya privilege yang berbeda dengan kita"

"ingat maudy ayunda heboh milih dua universitas? keliatannya hebat, ya jelaslah.. dia lulus dari sekolah internasional M yang banyak siswanya lulus keluar negri"


dsb dsb


Berbicara tentang privilege dan kesuksesan ini sedikit banyak mempengaruhi saya saat saya tumbuh besar. Because honestly, I do have lot of privileges, jadi cibiran-cibiran bernada sumbang sering banget saya dengar di jalan kesuksesan saya


"ah elu mah enak, bapak lu begini, laki lu begitu, mertua lo begono..."

"enak ya jadi elu mik, lahir aja langsung kegambar kok loe bakal sukses, coba gue?"

dsb dsb


Pernah suatu hari saya membicarakan hal ini dengan ayah saya, disaat bersamaan ayah saya sedang sedikit kecewa dengan salah satu adik saya, jadilah sore itu menjadi sesi curhat kami berdua


jadi salah seorang adik saya sedang merintis usaha, suaminya bukan berasal dari keluarga yang memiliki privilege yang sama dengan keluarga kami, tapi dia pekerja keras dan mau berusaha, ayah saya menghargai kerja kerasnya dan memberikan fasilitas Mungkin karena banyak sekali omongan-omongan miring di sekitar adik ipar saya yang membuat dia tidak nyaman bekerja dengan fasilitas dari mertua, akhirnya adik saya mengembalikan semua fasilitas dari ayah saya, dengan niat untuk memulai semuanya dari nol


ayah saya bertanya kepada saya, dengan sedikit kecewa,

"coba kamu pikir, orang lain memiliki garis start yang berbeda. Ada yang mulai dari nol, ada yang mulai dari minus, kalian cukup beruntung karena kalian memulai dari titik nomor 15. konyol kan kalau trus kalian mundurkan garis start kalian itu dari nol agar sama dengan yang lain? nilai kesuksesan seseorang itu bukan diliat di titik mana kamu berakhir, tapi sejauh mana kamu bisa berjalan dari titik awal yang kamu punya."




"kamu mulai dari titik 15, teman kamu mulai dari titik nol. 20 tahun lagi kamu ada di titik 15 teman kamu ada di titik 15, menurutmu siapa yang sukses? kamu? bukan... kamu gak sukses, kamu cuma jalan di tempat... teman kamu yang sukses."


"Sekarang justru tugas kamu adalah melanjutkan titik ini, sekarang kamu sudah abi warisi titik ke 15, tugas kamu adalah mewarisi ke Rana titik yang lebih jauh dari 15"


dan dari sesi curhat sore itu saya melihat, kesuksesan seseorang itu tidak bisa di bandingkan dengan orang lain. karena setiap orang punya garis awal yang berbeda-beda


ada yang umur 20 tahun sudah menikah dan punya dua orang orang anak

ada yang umur 20 tahun sudah lulus menjadi dokter

ada yang umur 20 tahun bahkan belum lulus SMA

ada yang mungkin umur 20 tahun sudah sibuk mengurus ibu dan sekolah adik-adiknya


setiap orang punya garis waktu yang berbeda

setiap orang memiliki garis takdir yang berbeda


Untuk yang terlahir memiliki privilege, syukuri itu, hargai dan kembangkan

Untuk yang tidak terlahir dengan privilege, jangan jadikan titik awal orang lain sebagai perbandinganmu. Boleh kamu gunakan untuk pemicu semangat, tapi jangan lantas di jadikan bahan cibiran


Karena kematangan emosi seseorang bagi saya merupakan salah satu modal dari kesuksesan. Menjadikan halangan sebagai motivasi itu termasuk salah satu ciri dari kematangan emosi